JALAN SANTAI SAMBIL MEMBERSIHKAN LINGKUNGAN
24 Agustus 2009
ARTI KEMERDEKAAN
Oleh: Romo Ign. Allparis Freeanggono, Pr
Saudara–saudara yang terkasih dalam Yesus,
Setiap bulan Agustus, secara istiwewa kita merayakan hari kemerdekaan bagi bangsa
Gereja Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda telah ada sejak 70 tahun yang lalu. Sementara itu bangsa
Pada jaman
Melalui hidup menggereja yang benar, marilah kita membangun bangsa. Kita menyadari bahwa Gereja kita adalah bagian dari negara ini. Sudah selayaknya kita peduli dengan persolan bangsa ini serta menghindari untuk mengambil sikap sebagai warga yang egois atau warga yang hidup dalam lingkungannya sendiri. Salah satu wujud kepedulian yang dapat kita lakukan adalah dengan menghormati saudara-saudara kita yang muslim dalam menjalankan ibadah puasa. Mari kita saling menghormati. Kita yang tidak puasa menghormati yang puasa, yang puasa menghormati yang tidak puasa. Dengan demikian kita dapat hidup berdampingan dengan saling menghormati.
Saudara-saudara yang terkasih,
Tak lama lagi pada bulan September, kita memasuki bulan Kitab Suci Nasional. Mari bersama-sama menimba sabda Allah secara lebih mendalam dan mari kita terapkan dalam hidup sehari-hari warga negara
23 Agustus 2009
Peringatan HUT Paroki ke-70 dan HUT Kemerdekaan RI ke-64:






Dalam rangkaian peringatan HUT ke-70 Paroki Kelayan sekaligus peringatan HUT
Saat bendera start dikibarkan oleh romo Allparis, para peserta pun mulai bergerak, berjalan perlahan-lahan. Masing-masing peserta memegang kantong plastik tempat sampah yang telah dibagikan oleh Komka sebelum acara dimulai. Dengan penuh semangat anak-anak maupun kaum dewasa memungut sampah yang ditemui sepanjang perjalanan sehingga terkumpul sebanyak 1 pick-up sampah. Sesekali ibu Anna mengingatkan para peserta untuk tidak menghalangi jalan. Di pertengahan rute perjalanan, panitia menyobek kupon yang dibawa peserta untuk diundi di akhir acara.
Pukul 08.00 Wita, seluruh peserta telah sampai di gereja dan langsung menyerbu teh, kopi, roti, pisang rebus dan singkong rebus yang telah disediakan ibu-ibu PKP di Pendopo Santo Yosef. Setengah jam kemudian para peserta kembali berkumpul di depan Aula Syalom untuk melakukan senam bersama dipimpin oleh ibu Eni. Setelah senam bersama, acara dilanjutkan dengan pengundian door prize. Satu persatu sobekan kupon diundi dan dibacakan untuk memperebutkan 84 hadiah berupa kaos, lentera, setrika, dispenser, magic jar. TV serta sepeda diperebutkan sebagai hadiah utama.
Pukul 09.00 Wita, kegiatan jalan santai ini berakhir. (smr)
Foto-foto: Riyanto & Maria Roesli
HUT PAROKI
AGENDA PERAYAAN HUT 70 TAHUN PAROKI BULAN SEPTEMBER 2009
5 September 2009 : Batas waktu mengumpulkan Lomba Foto Jadul
13 September 2009 : Lomba Outbond antar komunitas
15 September 2009 : Batas waktu mengumpulkan Lomba Mengarang Tema : Menghayati Kehidupan Berparoki di Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkadung Tanpa Noda
ANAK BANGSA YANG BERSATU DALAM KEMERDEKAAN
Amanat Bersama #IndonesiaUnite (16 Agustus 2009)
- Kami adalah generasi baru, pewaris sah Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
- Kami adalah generasi baru, yang menolak untuk hidup dan tumbuh dengan rasa takut. Kami memilih menjadi pemberani.
- Kami adalah generasi baru, yang percaya setiap kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Karena itu, kami akan berusaha untuk memutus rantai kekerasan melalui karya kemanusiaan di mana pun kami berada.
- Kami adalah generasi baru, yang percaya penuh dengan prinsip demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan, dan saling menghormati. Karena itu, kami menolak segala bentuk diskriminasi.
- Kami adalah generasi baru, yang akan membangun sebuah bangsa dan negara yang bermartabat dan terhormat, mampu mempersatukan Indonesia, melindungi hak-hak individu, berdiri di atas semua golongan, serta memuliakan manusia-manusia yang menjadi rakyatnya.
“Amanat Bersama” ini melalui proses wiki yang berjalan di halaman #Indonesia Unite, sejak 9 Agustus 2009 sampai dengan 14 Agustus 2009.
(#Indonesia Unite adalah sebuah forum di situs jejaring sosial yang menampung berbagai apresiasi anak bangsa dalam hal kemajukan dan kemajuan bangsa tercinta ini)
Amanat bersama yang tercantum di atas, sungguh merupakan sesuatu yang menjadi tantangan para anak bangsa dalam konteks tulisan ini. Gereja dalam hal ini paroki kita harus berani mengatakan dan mewujudkan makna kemerdekaan di usia bangsa ini yang sudah 64 tahun. Teringat sebuah petikan dari Mgr. Soegijapranata, SJ (alm) yang mengungkapkan ‘Jadilah 100% Warganegara (Indonesia) dan 100% Katolik.
Ada sebuah pertanyaan yaitu apa sumbangsih yang telah kita berikan kepada bangsa ini? Terkadang atau mungkin sering kita menuntut apa yang menjadi hak dari pada kewajiban.
Banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai anak bangsa untuk mewujudkan makna sebuah kemerdekaan, yaitu dengan hal – hal kecil dulu. Dalam sebuah amanat bersama di atas dapat ditemukan berbagai tindakan yang dapat kita lakukan bersama (gereja) dalam membagikan kasih Kristus di masa ini. Di point ke dua dalam amanat bersama diungkapkan tentang penolakan hidup dan tumbuh dalam rasa takut, mungkin dapat kita rasakan bersama bahwa kita (gereja) yang dipandang sebagai kaum minoritas selalu berjalan dalam rasa takut. Itulah yang perlu dijawab, kapan kita (gereja) dapat tampil tanpa rasa takut? Jadilah pemberani!! Itulah pesan point ke dua dalam amanat bersama diatas. Dalam point ke tiga pun diungkapkan tentang pemutusan garis kekerasan melalui berbagai karya kemanusiaan, dalam hal ini di paroki kita sudah terlaksana berbagai karya kemanusiaan yang melibatkan masyarakat umum seperti berbagai aksi sosial dan nantinya berbagai kegiatan di Ulang Tahun Paroki yang ke 70 juga diisi kegiatan – kegiatan aksi sosial bagi masyarakat umum, di tingkat keuskupan pun melalui Misi Meratus dilaksanakan sebuah karya kemanusiaan untuk menyentuh warga pegunungan Meratus yang masih jauh dari kata menikmati hidup merdeka (buta huruf, buta angka, tertinggal dll).
Mengambil petikan point ke empat yaitu prinsip kesetaraan, gereja dalam hal ini mempunyai tantangan yaitu gereja yang notabene kaya tidak merasa diri menjadi eksklusif, dapat diambil contoh yang sudah terjadi bagaimana pada masa ini pembangunan gereja – gereja baru selalu mendapat pertentangan dengan kaum mayoritas, menurut hemat pikiran penulis itu terjadi karena ke-eksklusifan gereja yang merasa punya izin, duit dan tanah terus membangun. Membangun gereja itu “proses bukan proyek” sebaiknya bagi para penerus gereja harus memperhatikan hal itu artinya membangun pondasi gereja dalam masyarakat dan relasi serta komunikasi ke masyarakat dahulu, baru membangun gedung gerejanya. Sehingga “kemerdekaan” dalam hal membangun gereja dapat kita nikmati. Mari kita sebagai anak bangsa bersama mewujudkan sebuah kemerdekaan melalui berbagai karya membagikan kasih Kristus ke sesama.
Mempertanggungjawabkan Sebuah Kebebasan
Kebebasan merupakan salah satu bentuk ekspresi Kemerdekaan. Oleh karena itu kita diajak penulis untuk merenungkan arti kebebasan yang kita miliki…
Anda pasti sudah tahu kalau manusia itu adalah ciptaan yang paling sempurna. Ciptaan yang paling disayang. Mau tau buktinya. Sudah jelas tertulis dalam Kitab Kejadian yaitu pada peristiwa penciptaan. Bab dan ayat berapa? -Silahkan cari sendiri, sekalian mulai membuka Kitab Suci, bulan depan-kan (September) bulan Kitab Suci. Minimal tahu letak dan kondisi Kitab Suci tersebut.- Pada kisah penciptaan manusia diciptakan paling terakhir, setelah segala sesuatunya tersedia. Makan tinggal makan dan minum tinggal minum. Semua disediakan tanpa harus membayar, enak too.
Tetapi semua yang diberikan Tuhan itu ternyata ada syaratnya. Dan itu sangat ringan. Manusia cuma dilarang memakan satu buah terlarang yang sudah ditandai oleh-Nya. “Nanti kamu akan mati”, begitu pesan Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya. Maka dalam arti ini,
Tuhan memberikan kebebasan secara penuh kepada manusia ciptaan-Nya yang paling mulia itu. Bebas untuk tinggal dimana saja. Bebas untuk makan apa saja. Bebas untuk bertindak seturut kehendaknya. Tetapi kebebasan itu tetap ada batasanya. Kebebasan itu harus ada aturannya. Mengapa? Karena Tuhan menciptakan manusia secitra dengan Diri-Nya (sama dengan Allah). Artinya manusia diberikan juga hati nurani untuk berpikir, bertindak dan mengambil keputusan yang harus benar di mata Allah.
Pada awal penciptaan itu, Tuhan Allah “hanya” melarang manusia untuk tidak memakan buah yang telah “ditandai” Allah. Allah sebenarnya mau melihat, apakah manusia itu menggunakan kebebasannya dengan bijaksana atau tidak? Kita lalu akan berpikir, berarti manusia itu bukan ciptaan yang sempurna, karena toh akhirnya manusia tidak mentaati perintah Allah. Jadi dalam arti tertentu Allah telah gagal menciptakan manusia. Benarkah demikian? Jelas salah. Sekali lagi salah. Allah justru memberikan yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Allah memberikan kebebasan kepada manusia, untuk berbuat seturut kehendaknya sendiri. Persoalannya apakah kehendak manusia itu sama dengan kehendak Allah?
Buah terlarang yang tidak boleh dimakan merupakan gambaran bahwa dalam setiap kehidupan selalu ada norma/aturan yang telah ada dan telah disepakati oleh semua ciptaan. Buktinya cuma manusia saja yang berani memakan buah itu. Ciptaan lain tidak ada yang berani. Jadi manusialah yang melanggar norma yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Manusialah yang melanggar kebebasan itu. Dan ketika Sang Pencipta meminta sebuah pertanggung jawaban, menusia itu mengelak dengan hebatnya. “Karena ular itu yang merayu”, begitu kata perempuan itu (Hawa). Lalu kata yang lelaki (Adam); “Karena perempuan itu yang menyuruh”. Jadi sudah dari awal manusia selalu mencari “yang lain” untuk membela dirinya dan seolah-olah dia tidak bersalah. Dan “seni” melempar kesalahan kepada “yang lain” masih terlihat sangat jelas sampai sekarang. Adakah di antara kita yang berani berkata; “Ya saya salah” ketika berbuat satu kesalahan tanpa harus terlebih dahulu memberikan alasan (baca: pembelaan)?
Sangat disayangkan, karena manusia pertama yang diciptakan Allah menjual kebebasannya dengan sebuah buah terlarang. Saya berandai-andai jika buah itu tidak dimakan. Tentu kita sekarang berada di
Selamat merenungkan. (ib)
Seminar Kerahiman Ilahi
Minggu, 02 Agustus 2009, bertempat di Aula Syalom sekitar pk.10.00 wita, diadakan Seminar Kerahiman Ilahi dengan narasumber P. Ceslaus Osiecki, SVD. Pastor keturunan Polandia namun sudah berkewarganegaraan Indonesia ini, membahas tentang Kerahiman Ilahi yang telah disebarluaskannya sejak tahun 1997, melalui buku yang ditulisnya dengan judul Rasul Kerahiman Ilahi (Devosi Kepada Kerahiman Ilahi). Berawal dari Flores, NTT yang kemudian tersebar ke seluruh Indonesia, melalui Keuskupan-keuskupan setempat.Dalam seminar ini, P. Ceslaus Osiecki, SVD, menerangkan bahwa Doa Koronka (Doa Kerahiman Ilahi) adalah doa yang diajarkan Yesus kepada St.Faustina, dan merupakan salah satu Devosi yang kita kenal sekarang. Ada 4 inti dalam Devosi ini, yaitu :
1. Gambar Yesus Maharahim, yang memperlihatkan Kerahiman Yesus melalui air dan darah yang terpancar dari lambung Yesus setelah ditikam, dengan tulisan Yesus, aku berharap padaMu (Jesus, I trust in You) di bawahnya. Menurut P.Ceslaus, SVD pada awalnya gambar Kerahiman Ilahi tidak terdapat gambar monstran. Tetapi kemudian, atas usul Bapa Suci Yohanes Paulus II, untuk meningkatkan Adorasi terhadap Sakramen Mahakudus, maka dalam gambar Kerahiman Yesus diletakkan gambar Monstran sebagai upaya agar umat ingat tidak saja pada Kerahiman Yesus juga akan Sakramen Mahakudus, walaupun secara garis besar baik gambar yang sekarang (dengan monstran) atau sebelumnya, fungsinya tetap sama yaitu mengingatkan umat akan Kerahiman Yesus.
2. Pesta Kerahiman Ilahi, dirayakan pada Minggu ke-2 Paskah (seminggu setelah Hari Raya Paskah). Sebelum memasuki Pesta Kerahiman Ilahi, diadakan Novena Kerahiman Ilahi yang dimulai pada hari Jumat Agung.
3. Doa Kerahiman Ilahi, lebih dikenal dengan sebutan Koronka, dapat didaraskan kapan saja, tidak melulu harus tepat pukul 3. Pukul 3 siang adalah saat merenungkan wafat Yesus di Salib. Doa yang seringkali dilakukan dengan rosario biasa ini, dapat kita isi dengan berbagai macam intensi untuk berbagai keperluan.
4. Penyebarluasan Devosi Kerahiman Ilahi. Seperti pesan Yesus pada St.Faustina, supaya menyebarluaskan Devosi ini kepada siapa saja, demikian juga kita yang telah tahu manfaat besar dari Kerahiman ini diminta untuk juga menyebarkan Devosi ini, entah melalui buku, gambar, tulisan-tulisan dan sebagainya.
Selain ke-4 inti tersebut, yang terpenting dari Devosi Kerahiman Ilahi ini adalah perbuatan/ praktek belas kasihan terhadap sesama. Karena iman tanpa perbuatan adalah sia-sia belaka.
Setelah selesai uraian dan penjelasan P.Ceslaus Osiecki, SVD, diadakan sesi tanya jawab juga sharing, baik dari umat maupun dari beberapa biarawati, mengenai doa pada umumnya serta Koronka pada khususnya.
Sebelum acara diakhiri, Ibu Luci (dari P.Katedral) selaku MC, memberi tambahan uraian tentang 7 bentuk praktek kerahiman jasmani maupun rohani setelah kita dipersatukan oleh Kristus, sebagai berikut:
Kerahiman Rohani :
1. menobatkan orang berdosa
2. mengajar orang yang tidak berpengetahuan
3. menasehati orang yang hilang
4. menghibur orang sedih/ berduka
5. bersabar dalam ketidakadilan
6. memaafkan penghinaan
7. berdoa bagi orang yang hidup dan mati.
Kerahiman Jasmani :
1. memberi makan orang lapar
2. memberi minum orang haus
3. memberi pakaian orang telanjang
4. membebaskan para tawanan
5. menjamu/ menerima orang asing
6. mengunjungi orang sakit
7. menguburkan orang meninggal.
Acara yang dihadiri 74 peserta ( 2 imam, 6 suster, 66 umat), dengan MC: Ibu Luci (Katedral), Moderator : P.Ign.Allparis, Pr dan Bpk.S.Ryanto (Veteran), narasumber P. Ceslaus Osiecki, SVD, ditutup dengan doa dari Bpk. A. Suharjo dan berkat dari P. Ignatius Allparis Freeanggono, Pr.