02 Juli 2008

MISTERI ROSARIO

Oleh Rm. Al. Lioe Fut Khin, MSF


Asal Kata & Asal Usul Doa Rosario
Kata “rosario” berasal dari kata Latin rosarium yang berarti “kebun bunga mawar” atau “untaian bunga mawar” yang biasa dipakai sebagai mahkota atau dikalungkan di leher. Mawar bagi tradisi romawi adalah ratu dari segala bunga.

Ada bermacam-macam pendapat mengenai asal-usul doa rosario. Menurut tradisi, doa rosario diberikan kepada St. Dominikus dalam suatu penampakan pada tahun 1214. Penampakan ini dikenal sebagai penampakan Maria Ratu Rosario di sebuah gereja di Prouille (Perancis). Namun dalam penyelidikan selanjutnya, doa dengan menggunakan tasbih sudah dimulai jauh berabad-abad sebelumnya, yakni ketika kaum awam mulai mengikuti kebiasaan liturgi di biara yang mendoakan Ibadat Harian, yakni doa yang mendaraskan 150 Mazmur dari Kitab Suci. Karena kebanyakan umat jaman itu tidak bisa membaca, lalu mereka menggantikan 150 Mazmur dengan 150 doa Bapa Kami. Dalam perkembangan selanjutnya doa Bapa kami dan Salam Maria didoakan bergantian. Pada abad ke 7, St. Eligius menulis tentang doa yang menggunakan 150 Salam Maria dengan dihitung. Sedangkan jauh sebelum adanya biara, ketika hidup para pertapa dalam gereja muncul, mereka juga sudah biasa berdoa dengan menggunakan tasbih, dengan menggunakan butir-butir simpul tali yang mereka buat sendiri, tetapi doanya adalah doa Yesus (doa nama Yesus).

Mengapa berdoa rosario?
Rosario adalah sebuah doa sekaligus cara masuk dalam meditasi. Banyak orang berpikiran bahwa doa ini hanya untuk ibu-ibu tua yang sederhana, yang tidak memerlukan kemampuan intelektual. Di situlah kekuatannya: sederhana dan tidak pakai otak, karena itu disebut misteri artinya tidak bisa dijelaskan. Jika ada orang ingin tahu kekuatannya, dia harus mulai mendoakannya terus menerus setiap hari tanpa henti. Sebagai misteri dapat diibaratkan seperti rasa buah durian. Siapa dapat menjelaskan bagaimana rasa durian itu kepada seorang turis dari Eropa? Kalau ia mau tahu rasa durian maka ia harus mencicipinya dan tidak cukup hanya sebiji saja …

Saya sendiri mengalami bagaimana kekuatan doa rosario itu. Saya ingat waktu saya masih sebagai frater tingkat I di Seminari Tinggi, saya pernah ditanya oleh seorang Suster tua dari tarekat KKS di Pangkalpinang, apakah saya berdoa rosario. Saya katakan dengan jujur bahwa saya hanya berdoa rosario jika ada acara doa rosario di komunitas, tetapi berdoa sendiri saya belum pernah. Beliau menasihati supaya saya berdoa sendiri karena Bunda Maria akan menjaga panggilan saya, katanya. Nasehat itu saya iyakan tetapi tidak saya laksanakan. Sampai tahun berikutnya ketika saya bertemu dengan seorang siswi SMP kelas 2 yang datang menghadap saya untuk berkonsultasi. Ia membawa persoalan yang luar biasa berat menurut saya. Ia menulis persoalannya dalam 7 halaman folio. Waktu itu saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

Lalu atas nasihat Pembimbing Rohani saya, saya mengajak dia berdoa “novena rosario”. Pada waktu yang sama kami berdoa bersama di tempat kami masing-masing. Itulah pertama kalinya saya menyalakan lilin dan berlutut berdoa rosario sendiri demi anak itu. Dan mukjizat terjadi sesudah 9 hari. Sejak saat itu rosario menjadi milik saya. Setiap hari rosario menemani hidup saya.

Doa Salam Maria
Tentu saja yang pokok dalam rosario adalah pribadi Bunda Maria. Walau banyak orang mencoba mengecilkan arti peranan Maria, namun devosi kita kepada Bunda Maria tetap berdasarkan Injil. Lihat saja apa yang dikatakan malaikat Gabriel dalam Luk 1,28: Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” . Ini menjadi baris pertama dalam doa Salam Maria. Dia disebut sebagai “Yang dikaruniai” – yang penuh rahmat dan Tuhan sendiri menyertainya, ada bersama dia. Dua kali disebutkan bahwa anak yang akan dilahirkannya itu adalah Anak Allah yakni pada Luk 1: 32 dan 35. Jika yang dilahirkannya adalah Anak Allah maka ia adalah Bunda Allah, karena tidak mungkin anak harimau dilahirkan dari ibunya kambing.
Kemudian dalam kunjungan Maria ke Elisabet, dalam Luk 1:42, dikatakan “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” dan ini menjadi baris kedua dalam doa Salam Maria. Sekali lagi Maria dipuji dan kali ini Maria disebut sebagai yang terberkati, artinya yang hidupnya menurut rencana dan kehendak Tuhan. Dan kemudian Maria disebut sebagai “Ibu Tuhan”, “siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku” (Luk 1:43). Lalu bagian kedua dari doa Salam Maria adalah permohonan Gereja.

Melalui Maria Menuju Yesus
Kita sebagai orang Katolik seharusnya berbangga memiliki seorang Ibu Surgawi yang begitu dekat dengan Tuhan dan juga dekat dengan kita. Dalam banyak penampakan Maria yang terjadi, seruannya yang pokok adalah supaya orang bertobat dan kembali percaya kepada Yesus anaknya. Dan semua orang yang datang kepada Maria akan dibawanya kepada Yesus. Bersama Maria kita tidak akan tersesat jalan menuju Yesus Tuhan.

Berdoalah rosario setiap hari atau sekurang-kurangnya sekali Bapa Kami dan sekali Salam Maria. Setiap kali satu Salam Maria kita doakan, sekuntum mawar kita letakkan pada mahkota Bunda Maria dan satu rosario berarti satu mahkota utuh sebagai tanda syukur dan terima kasih kita atas Yesus yang telah ia hadirkan demi penyelamatan kita.

KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI

(sambungan BUPAR edisi Mei 2008 –
tulisan terakhir dari 3 tulisan)

”Alangkah baiknya jika kita dapat hidup sesuai dengan rencana Sang Pencipta. Kita dicipta begitu indah diantara makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Sehingga semakin tak mendengarkan Dia, maka kita sendiri yang akan rugi, selain dari situ akan tercermin bahwa kita tidak memuliakan Dia sebagai Sang Pencipta,” demikian disampaikan Pastor Sing kepada para peserta rekoleksi membuka Sesi IV yang dimulai tepat pukul 10.00 Wita pagi pada hari Minggu, 17 Pebruari 2008. Pastor Sing melanjutkan, bahwa semakin taat kepada Allah, maka hidup kita akan semakin indah. Jika kita diciptakan baik, maka sudah semestinya kita dapat menjadi berkat bagi orang lain dan membawa damai bagi semua orang sebagai panggilan kita. Jika kita meminta kurnia-kurnia, biarlah kurnia-kurnia itu datangnya dari Allah sendiri dan bukannya dari yang lain. Ingatlah bahwa Tuhan mencintai kita tanpa syarat (unconditional Love), Allah tetap mencintai kita sejak awal mula.
Renungan berlanjut pada bacaan Injil Yohanes 18 (Allah tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu) dan Yohanes 21 (Allah mewahyukan diri bahwa Allah mengasihi kita). Allah menghendaki kita dapat saling mengasihi. Sekarang bagaimana ”respon” kita terhadap kasih Allah itu? Respon kita adalah dengan jalan ”mengikuti” kehendak-Nya.

Pastor Sing selanjutnya bercerita cukup panjang lebar mengenai kisah saat almarhum Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II sakit hingga sampai menjelang detik-detik terakhir wafatnya. Dari sini Pastor Sing mengajak peserta rekoleksi untuk berefleksi secara mendalam kalimat per kalimat tentang ”Doa Bapa Kami.” Pastor Sing mengatakan bahwa Doa Bapa Kami adalah doa yang lengkap (komplit). Maka seyogianya jangan menjadikan Doa Bapa Kami hanya sebagai ”doa tambahan” saja. Pastor Sing mengusulkan agar Doa Bapa Kami didoakan secara pelan-pelan, sehingga kesadaran kita makin lama akan semakin luas dan kita akan menjadi semakin terbuka kepada kehendak Allah. Dari sini, jika kita telah menyadarinya dengan baik, maka dengan sendirinya pelayanan kita akan menjadi lebih bagus. Sesi berlanjut dengan tanya jawab antara narasumber dengan peserta rekoleksi sebelum jam makan siang.

Mulai pukul 12.30 Wita, sesi tanya jawab berlanjut dengan beberapa pertanyaan dari peserta sebelum Pastor Sing melanjutkan ke materi berikutnya. Dalam paparannya Pastor Sing menjelaskan bahwa kita patut menyadari bahwa Allah menghendaki ”berelasi” dengan kita. Jika kita pun dapat berelasi baik dengan sesama kita, maka pribadi kita akan tumbuh berkembang. Dimensi kebersamaan sebagai ”satu keluarga kasih” harus nampak, yang nantinya akan mengembangkan pribadi kita juga pribadi sesama kita dan ciri kehidupan kita ada disitu. Ketika orang ”dikasihi” dan berkesempatan ”mengasihi,” maka orang akan merasa berharga karena dia dimiliki dan memiliki; tidak seperti pasir yang ditempatkan di dalam sebuah kotak. Maka dalam sebuah keluarga ”sense of belonging,” (rasa saling menerima dan memiliki) sangat diperlukan, sehingga Pastor Sing berharap sebaiknya jemaat-jemaat kecil dihidupkan.

Sejak lahir dalam ketidakberdayaannya, manusia diberikan kesempatan untuk mengalami dicintai. Ketika seorang bayi menerima perasaan diterima, maka bayi ini akan merasa ”aman” dan perlahan-lahan ia akan mengetahui bahwa dirinya dikasihi, hingga bayi ini akan berekspresi secara apa adanya, karena rasa aman merupakan ”dasar kepercayaan diri.” Demikian halnya juga dalam keseharian kita, sebuah ”komunitas” dapat membantu seseorang untuk merasa dimiliki sekaligus memiliki, sehingga orang tersebut pada akhirnya akan merasa aman. Hal ini berlaku dalam kehidupan bersama, dimana ”persaudaraan” harus kita kembangkan. Ketika kita berada dalam sebuah komunitas dan kita betul-betul berelasi, maka disini akan tercipta komunikasi. Hidupkan relasi personal. Dalam hal ini kita pun harus peka untuk feedback (diantaranya mau menerima masukan dari luar).
Pastor Sing mengingatkan agar dalam berelasi pun kita juga jangan takut terhadap terjadinya ”tabrakan-tabrakan” karena adanya perbedaan pandangan; jangan mengkeret, akan tetapi berjalanlah terus untuk semakin berkembang. Dalam kehidupan ini adalah give and take dalam wujud kebersamaan yang dapat mengembangkan kreasi kita, rasa solidaritas dan sebagainya. Justru melalui tabrakan-tabrakan yang terjadi, kita sesungguhnya ”dimurnikan” melalui proses dialog.

Dalam Kitab Kejadian 50:15-21, disitu dikisahkan bahwa Yusuf menghiburkan hati saudara-saudaranya. Yusuf memaafkan saudara-saudaranya bahkan mau menanggung hidup mereka dan anak-anaknya juga. Hal ini juga senada dengan bacaan Prapaskah Minggu Kedua yang diambil dari Injil Matius 17:1-9 dan Kitab Kejadian 12:1-4a, yang pada intinya ingin menuntun kita kepada kesadaran bahwa kita ini sesungguhnya dipanggil untuk ”menjadi berkat” bagi sesama kita. Sekarang bagaimana keutamaan-keutamaan itu bisa mendukung pelayanan kita dan juga sesama kita sehingga kita dapat menjadi semakin berkembang?

Keluarga sebagai contoh sebuah komunitas pun diharapkan tidak hanya mengajarkan hal-hal yang temporer saja, akan tetapi hal-hal yang pokok perlu juga diperhatikan. Hal-hal tersebut antara lain :
- Adanya penerimaan, dimana antar anggota keluarga harus saling menerima.
- Adanya feedback, saling mendukung satu sama lain.
Dari semuanya itu nantinya akan muncul keutamaan-keutamaan lain satu demi satu akan berkembang, akan tumbuh saling toleransi, saling pengertian, dan seterusnya. Sehingga pada akhirnya akan dapat menuntun kita kepada kehendak Allah.

Pastor Sing kemudian menutup rekoleksi kali ini dengan sebuah renungan dari bacaan Injil Markus 16:14, dimana dalam hidup kita, Allah memperkenalkan Diri-Nya secara berulang-ulang, akan tetapi Allah sendiri tidak memaksa kita supaya merespon kasih Allah. Sebab kasih itu pada hakekatnya adalah ”memberi” dan bukannya meminta! Dalam Kabar Gembira sebenarnya dikisahkan tentang Allah yang jatuh cinta kepada kita manusia. Perlu dihayati bahwa ”persaudaraan dan persahabatan” adalah salah satu media massa yang penting.

Pada akhirnya Pastor Sing berpesan agar panggilan kita sebagai orang Kristiani itu tidaklah cukup kita dibebaskan dari dosa saja, tetapi bagaimana kita kemudian dapat membagikan kasih Allah sehingga pada akhirnya akan semakin banyak orang yang dapat mengalami kasih Allah itu, amin. – SELESAI –

(Dionisius Agus Puguh Santosa)

REKOLEKSI MISDINAR

“Jarang misa…..Kacian dech loe!” itulah tema rekoleksi misdinar yang diselenggaran pada hari Minggu, 15 Juni 2008 pukul 09.00 – 12.00 WITA di Aula Syalom. Rekoleksi yang bertujuan meningkatkan semangat pelayanan anak, “misdinar yang berhati” ini berlangsung penuh keakraban dan diisi dengan nyanyian, doa, penjelasan dan cerita seputar ekaristi serta peranan misdinar dalam ekaristi yang dibawakan secara menarik oleh Romo Lioe Fut Khin, MSF. Dalam ceritanya, romo menekankan bahwa dalam ekaristi, Tuhanlah yang kita sambut. Misa berarti kita bersatu dengan Tuhan, oleh karena itu kita harus menyadari betapa berharganya perayaan ekaristi bagi kita semua. Anak misdinar yang jarang ke gereja akan jarang bertemu Tuhan Yesus….kacian dech loe..!” Terhadap pertanyaan seorang anak misdinar mempertanyakan pentingnya misdinar untuk misa - karena kenyataannya tanpa misdinar misa tetap bisa jalan -, romo menjelaskan bahwa memang sebetulnya misa bisa dilakukan sendiri oleh romo, tapi itu tidak ideal karena misa adalah untuk umat, semakin banyak orang mengambil bagian, maka misa akan menjadi semakin indah dan semakin berarti. Kemudian Frater Tommy, CMM melanjutkan cerita romo Fut dengan cerita Santo Tarsisius. Agar peserta lebih berani bersahabat dengan siapa saja dan bisa bekerja sama, maka Suster Sophia, SFD memberikan pertanyaan seputar St. Tarsisius serta mengadakan beberapa permainan.
Ibadat sabda oleh romo Lioe Fut Khin, pelantikan pengurus baru serta penerimaan anggota baru menutup acara rekoleksi. Bahan renungan dalam ibadat sabda diambil dari Matius 9:36 – 10:8 (Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan mengutus mereka). Lebih lanjut romo Fut Khin menguraikan bahwa murid yang dipih oleh Yesus adalah orang-orang desa yang tidak terpelajar karena Yesus melihat hati yang tulus dan tidak tinggi hati. Dalam menjadi misdinar pun, bukan kita yang ingin menjadi misdinar tapi Yesuslah yang telah memilih kita secara bebas. Misdinar berarti melayani Tuhan dalam misa dan berusaha menghayatinya dalam pelayanan dengan lebih sungguh-sungguh. Oleh karena itu pada anak-anak misdinar yang dikatakan tidak tertib, ribut, tertawa selama bertugas diharapkan mulai saat itu dapat memberikan yang terbaik dalam sikap dan pelayanan sebagai putra-putri altar dan tidak mengecewakan Yesus. Di samping itu anak-anak misdinar juga diharapkan untuk semakin rajin bertugas dalam misa harian dan misa mingguan. Dalam ibadat sabda tsb dilakukan pelantikan pengurus misdinar dengan susunan sbb:
Ketua : Yohanes
Wakil Ketua : Ekki
Sekretaris : Felicia
Bendahara : Maria
Koordinator latihan: Kristian dan Lintang
Pukul 12.00 WITA rekoleksi yang dihadiri oleh 50 orang anak misdinar dan pendamping misdinar ini berakhir setelah sebelumnya seluruh peserta menyempatkan diri untuk berfoto bersama dan makan siang. “Proficiat dan selamat bertugas untuk pengurus baru serta selamat bergabung menjadi putra-putri altar untuk anggota baru!”
Sumber: Sr. Sophia, SFD.

WARTA PKP

kaum wanita di Paroki kita merupakan anggota PKP, oleh karena itu diharapkan kerjasama dan keterlibatannya dalam seluruh kegiatan PKP. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan PKP dapat dirasakan seluruh kaum wanita di paroki sampai ke komunitas-komunitas, demikian ditekankan Ibu Novita selaku Ketua Seksi PKP dalam pertemuan yang diselenggarakan pada hari Minggu, 1 Juni 2008 di Aula Syalom. Pertemuan yang dihadiri oleh 37 orang yang mewakili komunitasnya masing-masing ini berhasil membentuk kepengurusan PKP periode 2008-2011 sbb:
Ketua I : Ibu Novita, Ketua II : Ibu Wahyudati, Bendahara I : Ibu Yuni, Bendahara II : Ibu Herlina, Sekretaris : Ibu Selvi, Koord. Kantin: Ibu Ninik Pramono, Koord. Ketrampilan dan Keputrian : Ibu Anik Darmo, Ibu Sulis, Koord. Barang inventaris : Ibu Eni, Ibu Eva, Ibu Nunik, Koord. Wilayah : Ibu Yuliani (Theresia), Ibu Ririn (Anna), Ibu Dewi Puspita (Martha), Ibu Ninik (Lucia), Ibu Anastasia Pang (Bernadeth), Ibu Florentina Kusuma (Sisilia), Ibu Megawati (Elisabeth). (Ibu Novita)

Jejak Langkah Paroki: Pastor Gerardus Heyne, MSF

Lahir di Den Bosch (Belanda) tanggal 20 Juli 1913. Ditahbiskan menjadi imam tanggal 23 Juli 1939. Ia masuk ke Universitet di Nijmegen, kemudian menjadi dosen di seminari tinggi. Tahun 1953 Pastor Heyne diutus ke Kalimantan bertugas sebagai Vikaris Uskup Banjarmasin sekaligus menjadi Pastor Paroki Kelayan tahun 1956 sampai dengan1985. Tahun 1986 pulang ke Belanda dan meninggal di Belanda tanggal 14 Januari 1999. Paroki ini berkembang pada masa penggembalaannya dan sebagai vikaris ia mendampingi uskupnya.
Sewaktu Pater Heyne menjabat sebagai pastor paroki, paroki ini sangat maju di bidang rohani dan jasmani/materiil. Dua kali gedung gereja diperluas. Sekolah-sekolah berkembang, jumlah umat Katolik bertambah.
Sebagai Vikaris, Pater Heyne mewakili Mgr W. Demarteau, sebagai uskup, kecuali tahbisan imam. Ia membantu Mgr. Demarteau dalam urusan Keuskupan Banjarmasin.
Pak Alexander Suharjo mengisahkan pengalamannya ketika bergabung dengan Legio Mariae yang didirikan Pater Heyne untuk pertama kalinya di Banjarmasin. Legio Mariae waktu itu berkembang menjadi ujung tombak dalam berevangelisasi & berkatekese bagi perkembangan umat paroki di bawah bimbingan beliau.

Catatan redaksi:
Anda memiliki informasi lain seputar Pastor Heyne dan karya-karyanya selama menjadi pastor paroki Kelayan? Kami juga mengharapkan data, tulisan, foto pastor paroki Kelayan setelah Pastor Heyne beserta karyanya yang menonjol untuk melanjutkan tulisan Jejak Langkah Paroki ini.

Terobosan Baru dalam Kegiatan Komunitas Agustinus

Dengan wilayah teritorial yang luas yaitu dari Jl. A.Yani KM 9 sampai Gambut dengan 41 KK merupakan sebuah tantangan bagi komunitas yang diketuai Bp. Robertus Sucipto Tirta Toha dan Bp. Filipus Musa Reme ini dalam penyampaian informasi dan komunikasi antar umat. Maka seiring dengan terbentuknya kepengurusan komunitas Agustinus periode 2008-2011, sejak bulan Mei 2008 telah diterbitkan buletin komunitas yang terbit satu bulan sekali. Buletin yang dikelola oleh Bp. Lukas (sekretaris) ini menampilkan susunan pengurus komunitas, program kerja/kegiatan dan data keluarga pada edisi Mei 2008. Pada edisi Juni 2008 ditampilkan berbagai kegiatan komunitas. Laporan keuangan dan beberapa kisah menarik mengisi setiap penerbitan buletin tsb. Selain itu, komunitas yang mayoritas warganya tinggal di Komplek Persada Mas ini juga melaksanakan kegiatan pelatihan lektor dan pemazmur bagi anak-anak yang dimulai 14 Juni 2008. (Bpk. R. Sucipto)

KOMKA: Ke Pasar Terapung

Pagi itu, 22 Juni 2008, rombongan teman-teman KOMKA Santa Maria berangkat dari Paroki Kelayan menuju Jl. R.K. Ilir untuk selanjutnya naik perahu klotok menuju ke obyek wisata Pasar Terapung di daerah Kuin. Rombongan berangkat pukul 05.00 Wita, diawali dengan doa & berkat dari Rm. Allparis, Pr.
Sekitar 30-an orang teman-teman KOMKA terbagi ke dalam 2 kelompok, dipimpin oleh Tommy dan didampingi oleh Rm. Allparis dan Rm. Sukendar yang kali ini berkesempatan ikut rekreasi bersama. Dua buah klotok meluncur meninggalkan dermaga di Jl. Ilir, menyusuri alur sungai Barito yang sunyi lengang dengan pemandangan malam yang khas dipenuhi kerlap-kerlip lampu di kanan dan kiri alur sungai yang terlewati.
Suguhan nasi hangat menambah semarak suasana yang pagi itu terasa agak dingin. Suara canda, tawa dan beragam cerita terdengar memecah keheningan pagi ini...
Rm. Allparis dan Rm. Sukendar tampak berbincang akrab dengan teman2 KOMKA, banyak hal yang diperbincangkan, yang pasti semuanya merasa bersukacita mengikuti rekreasi kali ini...Menjelang pukul 06.45 Wita, rombongan sampai di Pasar Terapung, setelah berhenti sejenak, 2 klotok pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju Soto Bawah Jembatan untuk makan pagi bersama. Sekitar pukul 10.00 Wita, rombongan kembali ke dermaga di Jl. R.K. Ilir, sebelumnya juga sempat menonton lomba jukung yang dilaksanakan tepat di depan kantor Pemkot Banjarmasin. Sampai jumpa di acara selanjutnya yang tentu lebih menarik dan seru. Ayo gabung bersama KOMKA Santa Maria yukkkkkkk !!!!! (agus_bli)