17 Juni 2008

USKUP TERPILIH KEUSKUPAN BANJARMASIN

Bapa Suci Paus Benedictus XVI, telah menerima pengunduran diri dari Uskup Banjarmasin Mgr. F.X. Prajasuta, M.S.F.Dan Bapa Suci telah menunjuk Uskup Baru untuk Banjarmasin R.D. Petrus Boddeng TimangPastor Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus - Katedral Makassar. Diumumkan pada Sabtu, 14 Juni 2008 pukul 05.00 WIB. Biodata R.D. Petrus Boddeng Timang Lahir di Malakiri, Tana Toraja - Keuskupan Agung Makassar, 07 Juli 1947Studi Seminari Menengah Petrus Claver Makassar, 1967 melanjutkan studi di Seminari Tinggi "Anging Mammiri" Yogyakarta.Tahun 1982-1986, studi di Universitas St. Thomas Aquinas - Roma, memperoleh gelar Doktor Theologi Spiritual. Beliau ditahbiskan imam Keuskupan Agung Makassar pada tanggal 13 Januari 19741975-1978 : Formator di Seminari Menengah "St. Petrus Claver" dan pastor di Universitas Katolik di Makassar.1979-1982 : Rektor di Seminari Tinggi "Anging Mammiri", Yogyakarta.1986-1992 : Rektor Seminari Tinggi "Anging Mammiri", Yogyakarta.1992-1995 : Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi, Panakkukang, Makassar.1995-1999 : Rektor Unika Atma Jaya, Makassar.1999-2001 : Pastor Paroki Siti Fatima, Bantaeng, Bulukumba.2001- sekarang : Pastor Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus - Katedral Makassar dan anggota dengan konsultores untuk Perguruan Tinggi Keuskupan Agung Makassar.

16 Juni 2008

PROFICIAT : USKUP BARU KEUSKUPAN BANJARMASIN

Bapa Suci Paus Benedictus XVI pada hari Sabtu, 14 Juni 2008 di Vatican pada jam 12.00 waktu setempat (18.00 Wita) mengangkat Pastor Paroki Katedral Makassar Pastor Petrus Boddeng Timang, Pr menjadi Uskup Keuskupan Banjarmasin yang baru. Pastor Petrus Boddeng Timang lahir di Malakri pada tanggal 7 Juli 1947 dan ditahbiskan menjadi Imam di Makassar pada tanggal 13 Januari 1974. Saat ini beliau berusia 61 tahun dan telah menjadi Imam selama 34 tahun. Dimohon dukungan doa dari seluruh umat agar di setiap akhir Perayaan Ekaristi mendoakan 3x Salam Maria, agar Bunda Maria menjadi Ibu dan Pelindung Uskup terpilih. Uskup baru kita sambut dengan "DEO GRATIAS, ALLELUIA."

12 Juni 2008

RENUNGAN

KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI
(ditulis oleh : Dionisius Agus Puguh Santosa)

Rekoleksi dibuka seusai Jalan Salib dan Perayaan Ekaristi pada hari Jumat, 15 Pebruari mulai pukul 20.00 Wita. Pastor Sing mengawali rekoleksi Sesi I ini dengan mengajak para peserta untuk berbicara tentang falsafah kita sebagai orang beriman yaitu mengikuti Kristus dan kaitannya dengan lingkungan keberadaan diri kita masing-masing, dengan harapan kita dapat menyadarinya dengan baik supaya respon kita selaku orang beriman menjadi pas atau sesuai; tidak terkecuali hal ini juga berlaku bagi para Imam/Biarawan/Biarawati serta kaum religius. Sebagai umat Katolik kita sebenarnya mempunyai hal yang khas seturut dengan perwahyuan Tuhan kepada kita sebagai Allah yang penuh kasih, juga sebagai Allah Penebus. Di sinilah ”warna iman” kita berbeda. Pastor Sing kemudian berkisah tentang keprihatinannya terhadap kaum muda kita yang rela pindah agama ketika hendak menikah, sebab mereka-mereka ini tidak sadar Siapa yang mereka tinggalkan sebenarnya? Para Pastor dalam hal ini punya tanggung jawab moral, karena mereka yang menghantarkannya kepada Yesus melalui sarana Sakramen Baptis. Jika hal yang demikian terjadi, maka Sakramen Baptis dapat bersifat hanya rituil saja, tanpa ada usaha untuk memperkenalkan Yesus secara lebih mendalam.

Pastor Sing menekankan bahwa sebagai orang Katolik kita harus mempunyai identitas yang jelas; siapa saya dalam hubungannya dengan Tuhan, sehingga nantinya kita akan mengerti apa keinginan Tuhan atas diri kita masing-masing. Dan hal ini dapat kita ketahui melalui proses merenung.

Secara perlahan, Pastor Sing kemudian mulai membawakan materi, dimulai dari Perjanjian Lama yaitu Kitab Kejadian, dimana didalamnya dapat kita lihat kisah penciptaan yang kebenarannya dapat kita saksikan di alam semesta. Di sini kita mengetahui bahwa Allah Pencipta adalah Allah Yang Maha Baik. Keagamaan kita hendaknya bukan hanya mengakui Tuhan akan tetapi kita pun harus tahu bahwa Allah mengasihi saya. Di sinilah letak perbedaan ”warna iman” kita jika dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Dari wahyu penciptaan kita ketahui bahwa manusia diciptakan paling indah, sehingga bila kita melihat hal ini maka sudah sepantasnya kita bersyukur karena Allah sungguh memberkati kita; dimana kita dianugerahi hidup dan martabat sebagai seorang manusia. Kalau kita melayani, maka posisi kita adalah karena kita dikasihi oleh Allah. Pastor Sing berpesan kepada para anggota Dewan Paroki supaya melalui pelayanan yang kita lakukan, kita dapat bertumbuh bersama-sama dan mengalami kasih Allah sekaligus membagikannya bagi sesama; dengan kesadaran bahwa kita ini sebenarnya adalah sama-sama saudara se-peziarahan.

Materi kemudian berlanjut ke Perjanjian Baru dengan merefleksikan bacaan Injil Yohanes 1:29. Falsafah kita sebagai orang Kristiani adalah ”melayani”, sedangkan disisi lain falsafah dunia adalah kegelapan yang mau ”menguasai.” Dari bacaan Injil kita ketahui bahwa Yohanes memperkenalkan Yesus kepada murid-muridnya sebagai Mesias. Dalam hidup ini seorang manusia mencari hal-hal baik yang terkait dalam relasi kita dengan Tuhan. Pastor Sing juga menyoroti betapa pentingnya Pendidikan Religiusitas bagi anak-anak kita; dimana pendidikan ini dapat disampaikan melalui jalur sekolah dengan tujuan untuk membawa siswa dalam hubungannya secara pribadi dengan Tuhan.

Dalam mengadakan ”kontak” dengan Tuhan, hendaklah kita ”jujur” dalam mengungkapkan isi hati kita; jangan sekedar mementingkan ”ritus” atau hal-hal ritual saja. Dalam proses kontak dengan Tuhan itu kemudian timbul pertanyaan : ”Apa yang kita cari ketika kita pergi ke Gereja/datang kepada Tuhan?” Karena patut disadari bahwa sebagian umat kita tahu soal doktrin akan tetapi pada kenyataannya kurang menghayati imannya. Sesi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab terkait materi yang telah disampaikan sebelumnya hingga menjelang pukul 22.00 Wita dan diakhiri dengan Doa Penutup.

Hari berikutnya, Sabtu, 16 Pebruari 2008, Rm. Sing mengajak peserta rekoleksi untuk menelaah secara mendalam isi bacaan dari Kitab Mazmur 119:33. Dalam relasi pribadi dengan Allah, relasi ini harus terus-menerus dibangun dan bersifat konsisten (tetap). Demikian halnya juga dengan relasi kita dalam keluarga, komunitas, lingkungan, paroki, masyarakat dan seterusnya, dengan memandang bahwa kita ini adalah saudara satu sama lain.

Pada sesi selanjutnya, Rm. Sing kembali mengajak peserta untuk menelaah Kitab Mazmur 119:73-76. Ketika kita konsisten menyatakan kepada sesama kita bahwa Allah adalah kasih, maka lambat laun mereka pun akan mengenal-Nya. Di sini kita harus tulus mengasihi. Kita ini dianugerahi Tuhan berbagai potensi dalam kehidupan ini. Tuhan Yesus sendiri tidak hanya memberikan perintah-perintah saja kepada kita, akan tetapi lebih daripada itu juga mendorong kita juga kepada “keutamaan-keutamaan,” dengan tidak mementingkan hal-hal yang bersifat intelektuil belaka. Sebab hanya manusia saja yang dapat menghayati keutamaan-keutamaan, sedangkan binatang tak mampu melakukannya. Dengan penghayatan yang baik atas keutamaan-keutamaan ini, maka relasi yang ada tidak akan padam. Dalam Yohanes 16:31-35 disampaikan tentang Perintah Hukum Kasih, dimana di dalam Yesus dinyatakan kasih Allah yang tak terbatas. Kebaikan kita adalah keutamaan kita sebagai “citra Allah”; jadi sikap kita/way of life kita adalah “keutamaan iman,” maka dalam Injil dinyatakan bahwa, “Hendaklah kamu saling mengasihi sama seperti Aku mengasihi kamu. Dengan makin menghayati keutamaan (kebaikan hati) ini maka kita akan mengalami kebahagiaan hidup.

Kemudian Rm. Sing melanjutkan menerangkan materi tentang hubungan tata keakraban dengan Allah melalui bacaan Yohanes 14:1. Materi selanjutnya adalah refleksi dari Injil Yohanes 17 tentang Doa Yesus, ”Jadilah mereka satu seperti Aku dan Bapa adalah satu.” Sebagai umat Allah kita harus saling melayani dan saling mendukung untuk membantu saudara-saudara kita yang lain untuk turut melayani juga seturut kemampuan mereka masing-masing sesuai dengan panggilannya. Rm. Sing juga mengingatkan betapa pentingnya membaca Sabda Tuhan. Dengan membaca Sabda Tuhan secara berulang-ulang untuk selanjutnya merenungkannya, maka kita akan semakin menghayani kebaikan-kebaikan hati/keutamaan-keutamaan.
Sebagai selingan, para peserta kembali diajak untuk bertanya jawab. Salah seorang umat dari Paroki Veteran, Ibu Adriana Sofjan menanyakan tentang kiat-kiat agar umat di paroki dapat lebih terlibat, yang meliputi sumbang pikir hingga kepada keterlibatan secara fisik. Rm. Sing menanggapinya dengan cukup bijaksana, dimana di dalam persaudaraan biasanya orang senang dipuji/disanjung, di sini koneksi/hubungan yang bersifat personal sangat diperlukan. Ada pepatah Cina yang berbunyi : “Masuklah melalui gerbangnya dan keluarlah melalui gerbang kita.” Kita bisa memulainya dengan proses recruiting. Secara sadar ataupun tidak, dalam kehidupan ini sebenarnya kita membentuk “pola,” misalnya saja jika anak sedari kecil dibiasakan ikut terlibat kegiatan Gereja, maka hal inipun akan terbawa sampai dewasa hingga berkeluarga. Kita juga harus sadari bahwa makin berbau kota, maka kesannya akan makin individuil. (bersambung...)

Suara Umat

BERBAGI TANGGUNG JAWAB DI KOMUNITAS
contoh praktik yang dikembangkan di komunitas Matias
oleh: Sri Marganing *)

Beberapa minggu yang lalu, menjelang pemilihan pengurus komunitas, wilayah dan dewan paroki umat di paroki Kelayan sibuk membicarakan nama-nama yang dianggap pantas untuk diserahi tanggung jawab. Kesibukan lain yang tak kalah serunya adalah kesibukan mencari-cari alasan agar nama masing-masing tidak masuk dalam daftar yang akan diserahi tanggung jawab. Ada yang beralasan sibuk di pekerjaan, bisnis, sering keluar kota, mau pindah tugas, tidak mampu memimpin, dll. Bisa dipahami apabila umat cenderung menghindar menjadi pengurus komunitas, wilayah dan dewan paroki. Yang selama ini terjadi adalah para pengurus yang tidak mendapat imbalan apa-apa ini, bila tidak dapat menjalankan tugas dengan baik, maka mereka akan menerima kritik, pembicaraan negatif sampai cacian. Sebaliknya kalau mereka tidak menjadi pengurus, mereka akan aman dari hal-hal semacam itu dan nama mereka akan tetap “bersih” di depan umat lain.
Syukur pada Tuhan, di tengah-tengah kenyataan seperti itu ada banyak umat yang menyediakan diri diberikan tanggung jawab. Pengurus komunitas, wilayah dan dewan paroki telah terbentuk. Bukan berarti kita hanya menggantungkan harapan pada mereka untuk menjalankan tugas-tugas di paroki sementara tugas kita (dalam memilih mereka) sudah selesai. Tanggung jawab melaksanakan tugas-tugas dan mengembangkan gereja merupakan tanggung jawab umat seluruhnya.
Mengingat bahwa banyak potensi-potensi “terpendam” yang mungkin enggan untuk menonjolkan diri karena budaya orang timur memang demikian dan untuk menghindari yang muncul orang itu-itu saja, maka pada kepengurusan baru ini, komunitas Matias mencoba untuk berbagi tanggung jawab dengan seluruh umat di komunitas. Pertama-tama inventarisasi umat dilaksanakan. Pada dasarnya masing-masing umat diberikan tugas pada pelayanan misa di gereja dan di pertemuan komunitas. Pada pelayanan misa dikelompokkan siapa yang harus siap menjadi lektor, mazmur dan petugas kolekte / persembahan. Lektor, pemazmur dan petugas kolekte masing-masing ada penanggung jawab yang bertindak untuk mengatur giliran dan bila perlu melatih. Pada pertemuan komunitas, dikelompokkan umat yang bisa memimpin ibadat sabda, memimpin Pendalaman Iman/Kitab Suci dan yang lain kelompok pemimpin Doa Rosario. Tugas-tugas lain pun dibagi seperti membagi undangan, mengurusi kegiatan PKP, mengatur latihan koor, dll. Agar seluruh umat tetap tersapa maka ditunjuk juga seksi Sosial di tingkat komunitas untuk mengajak kunjungan ke keluarga-keluarga anggota komunitas. Hampir semua anggota komunitas mendapat bagian partisipasi pada 1 tugas kegiatan. Deskripsi tugas dan koordinasi kerja diatur agar kegiatan bisa dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Formulir baku seperti lembar pencatatan keuangan, giliran tugas menyediakan makan Romo, dlsb juga dibuat.
Pelaksanaan pembagian tanggung jawab dilaksanakan setelah pelantikan pengurus tanggal 11 Mei 2008. Pengurus baru mensosialisasikan ke seluruh umat di komunitas dan mengumpulkan umpan balik dari mereka.
Semoga usaha tersebut dapat menjadi sarana untuk berbagi tanggung jawab di antara seluruh umat dan mungkin bisa menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas lain.(zo)

*) Anggota pengurus komunitas Matias

Jejak Langkah Paroki


Pastor Leo Bussemakers, MSF
(Berkarya di Paroki Tahun 1950-1956)
“Pastor Paroki V: Pribadi yang suka bergaul”


Informasi utama tulisan ini dari Mgr. Demarteau & kami kompilasi untuk menyusuri jejak langkah paroki.
Lahir di Sevenum (Belanda) tanggal 6 November 1903. Ditahbiskan menjadi imam tanggal 25 Juli 1936. Sesudah kerja lama di bidang karya misi, tahun 1948 ia berangkat ke Kalimantan. Ia bertugas di beberapa tempat dan menjadi Pastor Paroki Kelayan sejak 1950 sampai dengan 1956. Sesudah itu ia masih berkarya selama 7 tahun di Jawa Tengah. Tahun 1974 ia pulang ke Belanda dan meninggal tanggal 21 Agustus 1989. pastor Bussemakers merupakan pribadi yang suka bergaul, kenal banyak orang, baik dengan umat Katolik maupun yang tidak Katolik. (zo)

Kabar Komunitas

PEMILIHAN KETUA WILAYAH & KETUA KOMUNITAS YANG BARU

Pada hari Rabu malam, tanggal 26 Maret 2008 yang lalu di Wilayah Santa Sisilia dilangsungkan pemilihan Ketua Wilayah dan Ketua Komunitas yang baru. Sehari sebelumnya dilangsungkan pertemuan antara Pengurus Wilayah yang lama dengan para calon pengurus yang baru. Dalam pemilihan Ketua Komunitas, mekanismenya mempergunakan kartu suara yang diedarkan ke masing-masing kepala keluarga (KK), dimana masing-masing KK mempunyai 1 hak suara. Penghitungan kartu suara dilakukan dalam pertemuan wilayah yang diselenggarakan di salah satu rumah umat. Setelah dilakukan penghitungan, maka terpilihlah Bapak FX. Muhammad Krisna (Engho) selaku Ketua Komunitas Timotius dan Ibu M. Yuming sebagai Ketua Komunitas Yustinus. Untuk pemilihan Ketua Wilyah dilangsungkan pada malam hari itu juga setelah masing-masing Ketua Komunitas terpilih. Dari 2 calon yang diajukan, makan terpilihlah Bapak Petrus Jhoni Rosadi sebagai Ketua Wilayah Sisilia didampingi oleh Bapak Simon Sunardi Nata selaku Wakilnya.









Lembar Kartu Suara





Dalam kata sambutannya, Bapak Engho mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan. Beliau menerima hasil pemilihan ini dengan lapang dada dan berharap adanya kerjasama dari seluruh umat di Komunitas Timotius. Sedangkan Ibu Yuming (Ketua Komunitas Yustinus) dengan nada yang sama juga mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan. Bapak Jhoni sebagai Ketua Wilayah Sisilia yang baru dalam sambutannya tetap menekankan tentang pentingnya kerjasama umat dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan untuk kemajuan Wilayah Sisilia, juga hendaknya bila Ketua Wilayah berhalangan, umat tetap mendengarkan dan menghargai segala keputusan Wakil Ketua Wilayah karena itu adalah sah demi kepentingan umat. Sebagai Ketua Wilayah Sisilia periode sebelumnya, Bapak Fl. Sudarmo mengungkapkan rasa sukacitanya selama menjalankan tugas, karena beliau merasa diterima dengan baik oleh umat. Bapak Darmo mengajak agar segenap umat di Wilayah mendukung para Ketua Komunitas maupun Ketua Wilayah yang baru, juga mengajak untuk menyapa umat yang selama ini belum aktif dan menjaga apa yang sudah dicapai bersama selama ini. (agus_bli)


Bapak Jhoni memberikan sambutan

DUKUNGAN BAGI YANG MENAPAKI PANGGILAN


Apakah yang dapat aku lakukan untuk mendukung panggilan? Salah satu aksi nyata adalah mendukung biaya pendidikan bagi para calon imam/suster/bruder yang sedang menapaki panggilan. Ternyata biaya yang mereka keluarkan tidak sedikit. Supaya mereka fokus pada panggilannya maka tidak ada salahnya umat ikut berpartisipasi mendukung pembiayaan pendidikan mereka. Rm. Doni Tupen,MSF yang lama berkecimpung di Seminari Persiapan Yohaninum Banjarbaru, memberikan gambaran,” Data terbaru pasti berubah-ubah, tetapi rata-rata per bulan kami mengeluarkan kira-kira Rp.700.000,- all in untuk satu seminaris. Jadi untuk makan, asrama dan sekolah. Sedangkan untuk biaya para frater pasti lebih dari itu.” Wah, banyak sekali biayanya Mo, dari mana sumber dananya? Rm. Doni memberi penjelasan lebih lanjut,” Sumber dana dari donatur dalam dan luar negeri dan juga dari orang tua seminaris. Dana dari dalam negeri, khususnya dari umat belum maksimal terkumpul. Mungkin umat belum tahu. Yang pasti bantuan luar negeri makin tipis.” Aduuh…
Praktik keluarga-keluarga dalam sebuah wilayah di suatu paroki membiayai anggota umatnya yang terpanggil dan bersama-sama rutin mendoakannya mungkin pernah anda jumpai. Rupanya Rm. Doni mempunyai mimpi lebih tentang hal ini,” Saya pernah punya mimpi Seminari Yohaninum di Banjarbaru punya mitra atau semacam orang tua asuh tetapi bukan ditujukan ke satu per satu orang seminaris melainkan ke lembaga, jadi lebih terorganisir dengan baik. Kelompok ini dapat dimulai dari penderma lewat sebuah celengan plastik.”
Celengan plastik yang mana Mo?
Celengan plastik untuk Seminari MSF
Jika anda melihat celengan plastik di pastoran bertuliskan “Persembahan untuk Seminari MSF” maka jangan ragu-ragu untuk mengambil & mengajari putra-putri kita ikut menyisihkan uang sakunya bagi dukungan panggilan di seminari, dan…siapa tahu putra-putri anda ikut terpanggil!.
Jika tidak dimulai sekarang, kapan lagi? (zo)