Tampilkan postingan dengan label Topik Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Topik Utama. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2011

AGENDA PERGANTIAN DEWAN PASTORAL PAROKI




RANGKAIAN PERGANTIAN DEWAN PASTORAL PAROKI

Pembentukan Tim Kerja

Setelah tiga tahun berkarya, kepengurusan Dewan Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda, Banjarmasin berakhir pada tahun 2011 ini. Di penghujung karyanya, pada pertengahan Januari 2011, Dewan Paroki Inti mengadakan pertemuan dengan beberapa umat untuk membentuk sebuah Tim Kerja yang mengatur segala hal berkaitan dengan Pergantian Dewan Pastoral Paroki. Dalam pertemuan tersebut terbentuk sebuah Tim Kerja yang selanjutnya diberi nama “Tim KPU” dengan susunan sbb:

Ketua I : Laurentius Kosasih

Ketua II : Igantius Horian Yauban

Sekretaris I : Sri Marganing R

Sekretaris II : Rofentika Girsang

Anggota : F.A. Junaedi

Venansius Genggor

Agustinus Anwar Yusran

Antonina Ida Harino

Rangkaian Kegiatan

Kegiatan-kegiatan berkaitan dengan pergantian Dewan Pastoral Paroki yang ditangani oleh Tim KPU adalah sbb:

1. Pemilihan Dewan Pastoral Paroki

Berbeda dengan urutan pemilihan Dewan Paroki periode sebelumnya, urutan kegiatan Dewan Pastoral Paroki kali ini dimulai dari Pemilihan Ketua Dewan Pastoral Paroki. Selanjutnya ketua Dewan terpilih menyusun kepengurusan.

2. Pemekaran Komunitas & Wilayah

Sementara Ketua Dewan terpilih menyusun kepengurusan, Tim KPU mengumpulkan masukan-masukan untuk pemekaran wilayah dan komunitas. Setelah pemekaran wilayah dan komunitas ini ditetapkan, maka dimulai pemilihan ketua wilayah yang kemudian dilanjutkan dengan pemilihan ketua komunitas.

3. Evaluasi Program Kerja Dewan Paroki Periode 2008—2011 dan penggalian masukan untuk program kerja Dewan Paroki periode 2011—2014.

Evaluasi dan masukan-masukan dari umat akan dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang akan mulai disosialisasikan dan dibagikan kepada masing-masing kepala keluarga pada bulan April 2011 melalui ketua komunitas.

Masukan-masukan ini akan disusun sebagai sebuah usulan untuk program kerja Dewan Pastoral Paroki periode 2011—2014.

(smr)

02 Januari 2011

RANGKAIAN NATAL 2010



Untuk mempersiapkan diri menyambut hari Natal di paroki Kelayan, beberapa kegiatan-kegiatan Pra-Natal telah dilaksanakan seperti Pendalaman Iman Adven, Sakramen Tobat, bazar, kurve dan beberapa kegiatan sosial. Pada tahun ini, segala kegiatan seputar Pra-Natal dan Natal dimotori oleh umat wilayah Martha ketua Bp. Reddy Mountana.

Berikut kegiatan-kegiatan yang telah berlangsung menyambut Natal 2010 di Paroki Kelayan:

Bazar

Menanggapi keperluan bahan-bahan murah untuk persiapan Natal umat paroki , maka pada Sabtu-Minggu, 11-12 Desember 2010 di halaman paroki Kelayan digelar acara Bazar. Acara yang dikoordinir oleh KOMKA ini menggelar penjualan berbagai macam keperluan rumah tangga dan makanan mulai dari sembako, susu, mie instan, sabun, shampoo, dll.

Ceria Bersama Sinterklas

Sementara Bazar berlangsung, pada hari Minggu, 12 Desember 2010 pukul 09.00 Wita setelah Misa Minggu pagi, di Aula Syalom berlangsung acara “Ceria bersama Sinterklas.” 200-an anak telah memegang tiket untuk mengikuti acara ini. Anak-anak tersebut mendapatkan bingkisan dan diberi kesempatan untuk berfoto bersama Sinterklas.

Pembagian Sembako

Sebagai salah satu ujud solidaritas, mulai tanggal 15 Desember 2010 telah dibagikan paket sembako melalui ketua komunitas kepada beberapa umat. Bahan-bahan untuk paket ini terkumpul dari sumbangan beberapa umat. Pada tahun ini disiapkan 150 paket berisi beras, sirup, gula, minyak, dll.

Donor Darah

Semangat solidaritas juga diwujudkan dengan aksi donor darah yang digelar pada hari Minggu, 19 Desember 2010. Dalam kegiatan ini terkumpul 40 kantong darah yang didonorkan melalui PMI.

Kurve

Minggu pagi, 19 Desember 2010 seusai misa pagi, umat membersihkan lingkungan gereja. Pembagian tempat-tempat yang dibersihkan telah diatur sesuai wilayah. Wilayah Martha dan Sesilia membersihkan bagian dalam gereja. Wilayah Lucia di sakristi. Sementara itu wilayah Theresia membersihkan Pendopo Santo Yosef, wilayah Elisabeth di Aula Syalom. Pastoran dibersihkan oleh umat wilayah Anna sedangkan pembersihan Gua Maria dilakukan oleh umat wilayah Bernadeth.

Setelah acara bersih-bersih lingkungan gereja, tepat pukul 12.00 Wita seluruh umat yang telah melaksanakan kerja bakti berkumpul di Pendopo Santo Yosef untuk menyantap makanan yang telah disediakan secara spontan oleh ibu-ibu masing-masing wilayah. (smr)

PERAYAAN EKARISTI MALAM NATAL


Perayaan Ekaristi Malam Natal di Paroki Kelayan dilaksanakan pada hari Jumat, 24 Desember 2010 pukul 20.00 Wita. Romo Allparis memimpin perayaan ekaristi pada malam itu. Nuansa Banjar tampak pada perayaan ekaristi tersebut. Semua petugas liturgi dan para penari mengenakan pakaian adat Banjar. Corak Banjar juga dikenakan pada pakaian misdinar dan jubah Romo. Pembawa kanak-kanak Yesus diwakili oleh pasutri Awan-Andi dari wilayah Sesilia. Koor oleh PSP Serafim.

Satu setengah jam sebelum misa dimulai umat telah berdatangan ke gereja. Pada umumnya mereka beralasan agar mendapat tempat duduk di dalam gereja. Memang sebagian umat terpaksa duduk di halaman gereja, Pendopo Santo Yosef dan Aula Syalom. Di tempat-tempat tersebut telah disediakan monitor agar umat dapat melihat dan mengikuti perayaan di dalam gereja.

Mengawali homilinya, Romo Allparis menggambarkan perayaan Natal yang terjadi saat ini. Di mall, hotel, café banyak orang larut dalam kegembiraan dan kemeriahan Natal meskipun penduduk Kristiani di Indonesia hanya sekitar 10%. Pernak-pernik Natal dan Sinterklas pun ikut memeriahkan malam Natal.

Dalam bacaan pertama yang diambil dari Kitab Yesaya telah dibuatkan datangnya Juru Selamat. Kita diajak untuk bergembira dengan adanya harapan itu. Ternyata yang datang kemudian adalah sosok bayi yang lemah. Namun bila kita merenungkan lebih jauh lagi, Yesus, Maria dan Yosef bukanlah sosok yang lemah. Mereka adalah sosok yang kuat. Maria yang sedang mengandung berjalan jauh untuk mengikuti cacah jiwa. Yosef yang meskipun tahu bahwa bayi yang ada dalam kandungan Maria bukan darah dagingnya tetap setia mendampingi dan melindungi Maria. Yesus yang adalah Raja Semesta Alam yang mampu melakukan apa saja berkenan lahir dalam keadaan sebagai manusia. Dalam keadaan ini Yesus mau terlibat dalam suka, duka dan penderitaan manusia. Inilah makna peristiwa Natal sesungguhnya, yaitu Tuhan peduli pada manusia. Dengan demikian kita diajak untuk menjadi manusia bagi sesama. Dalam keluarga, kita diajak untuk bertobat dalam saling mengasihi satu sama lain.

Sebelum berkat penutup, diberikan kesempatan kepada Ketua Dewan Paroki dan Ketua Panitia untuk memberikan sambutan. Ketua Dewan Paroki, Bp. Willy Sebastian menyatakan bahwa tahun ini adalah saat terakhirnya sebagai Ketua Dewan karena beliau telah menjadi Ketua Dewan selama 2 periode dan tahun 2011 akan diadakan pergantian pengurus. Selama menjadi Ketua Dewan, Bp. Willy merasa bangga dan bahagia karena rasa kekeluargaan dan kebersamaan umat paroki Kelayan sangat baik. Menjadi kerinduan Bp. Willy adalah bangkitnya kaum muda dalam tugas-tugas dan kegiatan di gereja karena aktivis di paroki memerlukan regenerasi. Setelah sambutan Ketua Dewan Paroki, Bp. Reddy Mountana selaku ketua panitia perayaan Natal mengucapkan rasa terima kasihnya pada semua pihak, donator, petugas liturgy, petugas parkir, keamanan dan koor yang telah mendukung rangkaian kegiatan Natal 2010. (smr)

29 November 2010

Penanda Ulang Tahun Paroki ke-71: PENERIMAAN SAKRAMEN KRISMA


Menandai Ulang Tahun ke-71 Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda, Kelayan, maka bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam, 21 November 2010 pada Perayaan Ekaristi Minggu Pagi dilaksanakan Penerimaan Sakramen Krisma kepada 236 umat oleh Bapak Uskup Petrus Timang.

Para penerima sakramen krisma ini telah belajar selama 4 bulan dengan dibimbing Suster Christian SFD, Suster Anna SFD, Ibu Yovita, Frater Theo CMM, Frater John CMM, Frater Anton, Bp. Harjo, Bp. Abdoel, Bp. Anton Kuwat, Bp. Anton DN, Ibu Lena dan Ibu Sri Lestari. Beberapa hari sebelum menerima sakramen krisma, para krismawan dan krismawati ini telah mengikuti rekoleksi yang dipimpin oleh Romo Lioe Fut Khin, MSF serta telah menerima sakramen tobat.

Perayaan ekaristi penerimaan krisma dipimpin oleh Bapak Uskup Petrus Timang didampingi Romo Allparis dan Romo Lioe Fut Khin. Petugas liturgy dilaksanakan oleh para penerima krisma, koor oleh PSP Serafim. Dalam homilinya, Bapak Uskup menyatakan bahwa sungguh baik waktu penerimaan krisma dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam yang jatuh pada minggu terakhir penanggalan liturgi. Hal ini mengandung makna bahwa semua mahluk bahkan kuasa kegelapan takluk pada Yesus, Sang Raja Semesta Alam sehingga kita tidak perlu mencari kuasa-kuasa lain selain tunduk pada Yesus.

Dalam bacaan Injil dari Lukas 23:35-43, sebutan “Raja” diucapkan oleh seorang penjahat yang disalibkan bersama-sama Yesus. Sebutan “Raja” bagi Yesus berarti:

· Penguasa, wakil Allah yang mengatur segala sesuatu di bumi.

· Memerintah untuk kesejahteraan orang banyak.

· Menyerahkan hidupnya bagi orang lain.

· Mengutus umat-Nya untuk bersaksi.

Kristus Raja bagi kita berarti bahwa Yesus adalah idola dan panutan kita. Yesus menjadi satu-satunya tokoh yang diandalkan sehingga tawaran-tawaran iblis yang menggiurkan tidak ada artinya bagi kita.

Dalam Gereja Katolik ada disebut Sakramen inisiasi, yaitu sakramen baptis, krisma dan ekaristi. Dengan menerima sakramen inisiasi ini secara lengkap berarti kita telah mempunyai “KTP’ Kerajaan Surga dan menjadi anggota gereja. Kita dianggap sebagai orang-orang yang dipilih dan siap diutus oleh Yesus. Untuk itu sudah selayaknya kita merasa bangga dan bahagia menjadi pengikut-Nya.

Sebelum berkat penutup, diberikan kesempatan kepada ketua panitia penerimaan krisma, Ibu Melina untuk memberikan sambutan dan diberikan surat kenangan krisma secara simbolis kepada para krismawan dan krismawati yang diwakili oleh Bp. Maringan Manihuruk, Sdri. Agnes Sardjono dan Sdri. Regina Clarissa. Setelah perayaan ekaristi selesai, para penerima krisma beramah tamah dengan Bapak Uskup di Aula Syalom dan ditutup dengan makan bersama. (smr)

Penanda Ulang Tahun Paroki ke-71: PEDULI KORBAN BENCANA ALAM



Saat ini negara kita sedang mengalami saat-saat yang sulit di berbagai tempat: banjir di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai dan meletusnya gunung Merapi di Jawa. Penderitaan akibat bencana makin diperparah dengan kekacauan politik, ekonomi, perselisihan antar suku, antar kelompok, antar agama. Hal itu terjadi seiring dengan hari ulang tahun paroki ke-71 sehingga tidak ada peringatan yang meriah. Kita dipanggil untuk bersaksi, mencoba terlibat untuk membantu mereka yang tertimpa musibah. Meskipun bantuan kita tak seberapa besar dibandingkan dengan penderitaan mereka, setidaknya kita merasa bahwa kita adalah bagian dari mereka dan ada niat untuk membantu. Doa yang kita lantunkan merupakan sebuah tindakan nyata. Selain doa, kita juga memberikan bantuan secara finansial. Dana telah kita kumpulkan dari kolekte maupun dari sumbangan pribadi, yang dikirim melalui paroki, keuskupan maupun dikirim secara pribadi.

Berikut ini beberapa hal yang dapat diinformasikan seputar kemana dana itu mengalir:

1. Dana yang dikumpulkan untuk korban di Mentawai dikumpulkan di keuskupan bersama dengan paroki-paroki di keuskupan Banjarmasin, kemudian disalurkan melalui keuskupan Medan, dimana Mentawai merupakan bagian dari keuskupan Medan.

2. Dana yang dikumpulkan untuk Peduli Korban Merapi disalurkan melalui para suster PMY. Bantuan diwujudkan berupa pemberian nasi bungkus, bahan pangan, penyembuhan dari trauma akibat bencana, dan sebagainya. Para suster PMY bersama dengan sukarelawan terlibat langsung menyalurkan bantuan yang diterimanya, termasuk dana dari umat paroki Kelayan. Dana yang terkumpul di paroki, ditransfer ke rekening atas nama :

SR MAGDALENA SUKIJAM PMY. BANK BCA , NO REK:1691761598.

Kontak person untuk tugas lapangan dalam penyaluran dana:

Sr. Anastasia PMY , no Tlp. 085328001960.

Masih terbuka peluang bagi umat akan membantu dengan mengirim langsung ke no rekening diatas. Para suster PMY tersebut berdomisili di Yogyakarta dengan alamat SLB HELEN KELLER INDONESIA. Jln. Martadinata, Wirobrajan, Yogyakarta.

Rincian dana yang ditransfer melalui paroki ke rekening tersebut di atas adalah sbb:

Dana kolekte II paroki terkumpul Rp. 10.000.000._

Dana kolekte II Komunitas Daniel Rp. 700.000._

Sumbangan NN RP. 5.000.000._

Sumbangan yang ditransfer sendiri ke rekening di atas Rp. 2.000.000._

Saya yakin ada yang mentransfer / menyumbang sendiri ke rekening tersebut tanpa sepengetahuan saya,siapa dan berapa jumlahnya.

Atas peran serta segenap umat dalam kepedulian ini, diucapkan terima kasih.

(R.D. Allparis)

KAUM MUDA DI KOMUNITAS


Kehadiran dan peranan kaum muda dalam aneka lomba memperingati HUT Kemerdekaan RI di Paroki Kelayan seolah mematahkan anggapan bahwa kaum muda di paroki cuma beberapa orang saja. Meskipun sebenarnya dari data umat bulan Agustus 2010 jumlah kaum muda di paroki adalah 373 jiwa, dengan sebaran per-komunitas sesuai grafik di bawah.

Berawal dari keprihatinan paroki terhadap vakum-nya kegiatan kaum muda, maka Bidang Koinonia Dewan Paroki mengambil momen HUT Kemerdekaan RI sebagai sarana bagi kaum muda untuk mengambil peran aktif. Untuk memunculkan “wajah-wajah” baru, maka kaum muda dikumpulkan dengan bantuan ketua komunitas untuk mengirim utusan kaum muda di komunitasnya masing-masing. Meski belum maksimal, namun upaya ini cukup membuahkan hasil, terbukti sekitar 40 orang berhasil dikumpulkan.

Peranan orang tua dalam memberikan ijin bagi anak-anaknya dan mendukung anak-anaknya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja pun patut dihargai. Semua berawal dari sebuah kesadaran bahwa paroki perlu suatu regenerasi yang berkesinambungan. (smr)

08 Juli 2010

KEMANA SETELAH KOMUNI PERTAMA?

Pada saat pendaftaran komuni pertama telah dipersyaratkan usia minimal bagi calon penerima komuni untuk mengikuti pelajaran. Persyaratan ini bukan tanpa alasan. Paroki Kelayan mensyaratkan usia minimal 9 tahun untuk menerima pelajaran karena pada usia ini, anak-anak dianggap telah memiliki daya tangkap yang cukup untuk memahami misteri Tubuh dan Darah Kristus dalam ekaristi. Dengan pemahaman yang cukup, diharapkan anak-anak dapat menghayati, memelihara dan menumbuhkan kehidupan iman mereka. Dukungan orang tua serta gereja sangat diperlukan untuk mewujudkan harapan ini.

Peran Orang Tua dan Gereja

Sebagai orang tua, kita dititipi Tuhan dengan otoritas penuh untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Selain melengkapi kehidupan jasmani untuk anak-anaknya, orang tua dipercaya Tuhan untuk melengkapi kehidupan rohani anak-anaknya sehingga mereka mengenal, memuji dan mencintai Tuhan. Orang tua memiliki misi yang mulia untuk menunjukkan jalan menuju Kerajaan Allah. Namun pada kenyataannya tidak semua anak “cukup beruntung” tinggal di tengah-tengah keluarga yang memberikan dukungan terhadap perkembangan imannya. Bila ini terjadi, maka komunitas dan gereja perlu mengambil alih peran ini sehingga gereja nantinya tidak akan “kehilangan” anak-anak yang telah dibina sejak baptis bayi sampai menerima komuni pertama.

Dari tahun ke tahun kita telah mengalami kehilangan ini. Pasca komuni pertama, beberapa anak masih terlihat dalam beberapa kegiatan seperti misdinar, remaka dan kelompok-kelompok kategorial. Beberapa anak memang masih terlihat mengikuti perayaan ekaristi setiap minggu. Sisanya kemana?

…Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan Yesus, dan dalam baptis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. …” (Dokumen Konsili Vatikan II - LG, 40)

Proses menuju tujuan akhir

Pembinaan iman tidak berhenti sampai anak-anak menerima komuni pertama. Jalan masih panjang dan tantangan semakin berat untuk ditaklukan anak dalam mencapai tujuan akhir, yaitu memperoleh kebahagiaan abadi. Untuk itu yang harus kita lakukan adalah mengambil peran agar anak terus bertumbuh dalam iman akan pengenalan terhadap Yesus. Kemunduran kehidupan iman akan membahayakan keselamatan. Berhenti bertumbuh, akan membuat anak terseret dalam arus dunia ini, yang berlawanan dengan nilai-nilai kekristenan

Anak-anak perlu bertahan dalam komunitasnya dan mengambil peran dalam kegiatan-kegiatan yang ditawarkan oleh gereja sehingga mereka tidak merasa asing dalam hidup menggereja dan iman mereka dapat terjaga. Diperlukan dukungan orang tua untuk mengarahkan dan memotivasi anak untuk upaya ini. Dukungan dapat diberikan berupa pemberian ijin, mengantar anak mengikuti kegiatan maupun keteladanan dari orang tua.

Ada beberapa kegiatan di paroki Kelayan yang dapat diikuti anak pasca komuni pertama, yaitu:

1. Putra-Putri Altar / Misdinar

Anak-anak akan dibina untuk melayani Tuhan di seputar altar. Pada saat penerimaan komuni pertama tahun ini, anak-anak langsung dilantik menjadi anggota misdinar. Latihan misdinar dilaksanakan setiap Minggu setelah perayaan ekaristi pagi.

2. Remaka (Remaja Katolik) dan Sekami (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner)

Kegiatan ini bertujuan untuk menye-mangati dan menumbuhkembangkan iman anak dan remaja dengan menghimpun mereka dalam keterlibatan di berbagai kegiatan-kegiatan, baik yang bersifat me-nyegarkan jiwa (rohani) maupun menyegarkan raga (fisik).

3. Kelompok Kategorial seperti Persekutuan Doa, KTM, Legio Maria Junior

Masing-masing kelompok memiliki ciri khas yang unik, namun semuanya bertujuan untuk memelihara dan menumbuhkan iman anak. (smr)

10 Desember 2009

MALAM SYUKUR PERINGATAN HARI ULANG TAHUN KE-70 PAROKI SANTA PERAWAN MARIA YANG TERKANDUNG TANPA NODA


Perayaan Ekaristi

Sabtu, 14 November 2009 pukul 18.00 Wita merupakan Malam Puncak Peringatan Ulang Tahun ke-70 Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda yang diisi dengan perayaan ekaristi dan ramah tamah.

Beberapa jam sebelum acara dimulai, gerimis turun di kota Banjarmasin sehingga perayaan ekaristi yang sedianya dilaksanakan di halaman parkir gereja dipindah ke dalam gereja. Dalam waktu 30 menit evakuasi hiasan altar, perlengkapan misa, dan seluruh umat telah selesai dilaksanakan sehingga pukul 18.30 Wita perayaan ekaristi dimulai.

Vikjen Keuskupan Banjarmasin, romo Yuliono, MSC, romo Allparis dan romo Lioe Fut Khin memimpin perayaan ekaristi tersebut. Hadir pula para pastor yang pernah berkarya di paroki Kelayan yaitu romo Aloysius Suharihadi, MSF, romo Aloysius Darmakusuma, MSF, romo Gregorius Sabinus, CP serta beberapa pastor dari paroki-paroki di keuskupan Banjarmasin. Mgr. Demarteau yang rencananya akan menghadiri peringatan ulang tahun tersebut terpaksa membatalkan kehadirannya karena kesehatan yang tidak memungkinkan. Ibu Agatha Mujiharni (kom. Paulus) dan Diva (kom. Bartolomeus) bertindak sebagai petugas pembaca Kitab Suci. Mazmur dilantunkan oleh ibu Christy (kom. Yakobus). Ibu-ibu WKRI ditunjuk sebagai petugas kolekte. Hal yang istimewa dan berkesan dari perayaan ekaristi tersebut adalah para putra altar yang di terdiri dari 3 generasi. Mereka adalah Bp. Yosef, Bp. Erwin, Bp. Daru, Bp. Antonius Ong sebagai wakil misdinar di era 70-an dan 80-an, Sdr. Reyner, Sdr. Rosi (misdinar era 90-an) serta misdinar yang saat ini masih aktif, yaitu Ekki, Yohanes, William dan Christian. Lagu-lagu dinyanyikan secara bergantian oleh koor dari 7 wilayah.

Dalam homilinya, romo Yuliono mengulas sejarah paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda. Gereja diawali oleh beberapa orang saja dan berkembang melalui karya para pendahulu. Dalam perjalanannya, gereja pernah mengalami tantangan dan kesulitan pada perang dunia kedua. Para pastor, suster, bruder ditangkap pemerintah Jepang dan umat tetap berkumpul untuk berdoa meskipun tidak ada gembala. Setelah perang, gereja mulai menjalani masa pemulihan dan terus berbenah. Saat gereja telah mencanangkan kemandirian, gereja kembali mengalami kekelaman dengan adanya peristiwa “Jumat Kelabu” yang menghancurkan gedung gereja. Namun demikian, gereja kembali melanjutkan perjalanan dan berusaha untuk menjadi tanda dan harapan bagi masyarakat.

Tanggung jawab perkembangan gereja bukan pada para pastornya saja. Bila saat ini masyarakat di sekitar gereja menyatakan bahwa pastor-pastor Belanda lebih ramah dan lebih memperhatikan kebutuhan mereka, itu bukanlah kritik bagi pastor yang ada saat ini. Sapaan, perhatian dan bantuan bagi masyarakat di sekitar gereja juga merupakan tanggung jawab seluruh umat.

Setelah perayaan ekaristi selesai, umat dipersilakan untuk mengikuti rangkaian acara malam syukur peringatan ulang tahun paroki di halaman parkir.

Malam Syukur Peringatan HUT

Sementara para pastor berganti baju, umat bergerak menuju halaman parkir. Bapak Uskup Keuskupan Banjarmasin, Mgr. Petrus Timang telah hadir di antara umat. Hujan telah reda, panggung telah disiapkan. Penampilan beberapa murid sekolah music “Symphony” dengan alat musik akustik mengawali acara tersebut.

Setelah para pastor berada di halaman parkir, acara dilanjutkan dengan penyalaan api unggun oleh Mgr. Petrus Timang. Api dinyalakan dari bawah dan bergerak perlahan ke atas melalui tali. Setelah sampai di atas, secara cepat api merambat turun dan membakar kayu-kayu untuk api unggun. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembukaan banner raksasa perjalanan paroki selama 70 tahun oleh romo Allparis dan romo Lioe Fut Khin.

Setelah ketua panitia, FA Junaedi , romo paroki, romo Allparis serta Mgr. Petrus Timang memberikan sambutan, acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada para sesepuh yang telah berkarya bagi pengembangan paroki. Secara simbolik penghargaan diberikan pada Bp. Abdoel BC, Bp. Alexander Suharjo, Bp. Yohanes Subekti, Ibu Magdalena Tumini serta Sr. Merry SFD. Selanjutnya dibacakan pengumuman para juara dan pemberian piala. kemudian umat dipersilakan untuk menikmati makan malam yang telah disediakan oleh ibu-ibu PKP. Sementara itu kelompok musik Komka, Remaka, Asrama Satya Andika dan sekolah musik Symphony membawakan beberapa buah lagu. Sesekali acara diselingi dengan pengundian door prize bagi para peserta lomba.

Di dalam pastoran, ketua II Dewan Paroki, ibu Gaby Siantori melakukan pemotongan tumpeng dan memberikan potongan tersebut pada Mgr. Petrus Timang dan romo Darmo. Para pastor, suster, frater hadir dalam pemotongan tumpeng tersebut.

Pukul 23.00 Wita seluruh rangkaian acara selesai setelah sebelumnya umat diminta untuk membersihkan halaman parkir. (smr)

23 Agustus 2009

Peringatan HUT Paroki ke-70 dan HUT Kemerdekaan RI ke-64:









Jalan Santai Sambil Membersihkan Lingkungan

Dalam rangkaian peringatan HUT ke-70 Paroki Kelayan sekaligus peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke- 64, pada hari Minggu, 17 Agustus 2009 dilaksanakan Jalan Santai sambil membersihkan sampah di sepanjang jalan yang dilalui. Kegiatan yang diikuti sekitar 300 orang ini, dimulai tepat pukul 07.00 Wita dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin oleh Bp. Anton dan mengheningkan cipta dipimpin oleh Ibu Anna Trombine selaku MC acara.

Saat bendera start dikibarkan oleh romo Allparis, para peserta pun mulai bergerak, berjalan perlahan-lahan. Masing-masing peserta memegang kantong plastik tempat sampah yang telah dibagikan oleh Komka sebelum acara dimulai. Dengan penuh semangat anak-anak maupun kaum dewasa memungut sampah yang ditemui sepanjang perjalanan sehingga terkumpul sebanyak 1 pick-up sampah. Sesekali ibu Anna mengingatkan para peserta untuk tidak menghalangi jalan. Di pertengahan rute perjalanan, panitia menyobek kupon yang dibawa peserta untuk diundi di akhir acara.

Pukul 08.00 Wita, seluruh peserta telah sampai di gereja dan langsung menyerbu teh, kopi, roti, pisang rebus dan singkong rebus yang telah disediakan ibu-ibu PKP di Pendopo Santo Yosef. Setengah jam kemudian para peserta kembali berkumpul di depan Aula Syalom untuk melakukan senam bersama dipimpin oleh ibu Eni. Setelah senam bersama, acara dilanjutkan dengan pengundian door prize. Satu persatu sobekan kupon diundi dan dibacakan untuk memperebutkan 84 hadiah berupa kaos, lentera, setrika, dispenser, magic jar. TV serta sepeda diperebutkan sebagai hadiah utama.

Pukul 09.00 Wita, kegiatan jalan santai ini berakhir. (smr)

Foto-foto: Riyanto & Maria Roesli