MEMIMPIN IBADAT SABDA TIDAK SULIT!
Keluhan
Seorang pendamping komunitas kebingungan ketika sampai waktunya menyiapkan bahan pertemuan bulanan komunitas. Bahan pertemuan itu tak lain adalah ibadat sabda. Sang pendamping komunitas & beberapa pengurus merasa kebingungan bagaimana mesti menyiapkan ibadat sabda, memilih bacaan Kitab Suci apalagi mengupasnya dalam renungan. Rupanya masalah ini juga sering menimpa pengurus komunitas pada umumnya. Keluhan utama adalah pemandu merasa tidak memiliki bekal ilmu tentang Kitab Suci atau pengajaran iman Katolik, tidak berani ataupun grogi saat memimpin apalagi berbicara panjang lebar di hadapan umat di komunitas, dan tentu saja memiliki kemampuan yang terbatas dalam menyusun sebuah ibadat sabda.
Materi
Seksi Pendalaman Iman Bidang Pewartaan mencoba menjawab permasalahan ini dengan menyiapkan “Pelatihan Pemandu Ibadat Sabda Komunitas”. Saat ini materi pelatihan telah disusun dalam bentuk buku dan dijadwalkan bulan Agustus 2008 akan dilaksanakan pelatihan tersebut. Secara umum materi mengulas persyaratan yang perlu dimiliki seorang pemandu ibadat sabda, persiapan sebelum ibadat sabda, tata upacara ibadat sabda, model-model renungan/khotbah, skema khotbah, dan ciri-ciri khotbah yang baik.
Kesempatan Bagus
Pelatihan merupakan sebuah seri pertemuan dengan teori dan praktek yang akan disajikan oleh Tim Kerja Bidang Pewataan. Oleh karena itu jangan lewatkan kesempatan ini bagi potensi umat yang terpanggil di setiap komunitas. Setelah mengetahui hal ikhwal memimpin ibadat sabda maka mereka yang mengikuti pelatihan akan berkata,”….memimpin ibadat sabda tidak sulit!” (zo)
PERAYAAN EKARISTI UNTUK KELUARGA
Setiap Jumat II dalam Bulan
Salah satu program dari Seksi Keluarga yakni Perayaan Ekaristi Keluarga digulirkan mulai Agustus 2008. Tepatnya setiap Jumat II dalam bulan jam 18.00 wita bertempat di gereja. Tujuan perayaan ekaristi ini adalah meningkatkan kualitas hidup rohani keluarga dan memberikan kesempatan bagi setiap pasutri untuk menyampaikan ujud syukur peringatan penerimaan Sakramen Perkawinan pada bulan tersebut. Para pasutri mendapatkan kesempatan untuk membaharui kembali janji nikah. Homili pastor dikhususkan untuk pembinaan kehidupan keluarga. Petugas liturgi dilayani oleh keluarga-keluarga. Misa ini terbuka bagi keluarga maupun pasutri dari paroki yang ada di kota Banjarmasin.
Jangan lewatkan kesempatan misa setiap Minggu kedua jam 18.00 setiap bulannya! Jadwal terdekat Jumat 8 Agustus 2008 dan bagi pasutri yang berulang tahun perkawinan pada bulan Agustus 2008 silakan menuliskan nama, tanggal penerimaan Sakramen Perkawinan & peringatan yang ke berapa pada formulir yang telah disediakan Sekretariat Paroki untuk mendapatkan doa dan berkat khusus saat Perayaan Ekaristi Keluarga! (zo)
PELAJARAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH NEGERI ATAU SWASTA NON KATOLIK
Umat yang memiliki putra-putri yang bersekolah di sekolah negeri atau swasta non Katolik tingkat SD & SMP di wilayah Paroki Kelayan apabila pelajaran agama Katoliknya belum terlayani maka dapat mengisi formulir pendaftaran di Sekretariat Paroki. Diharapkan sebelum tgl 3 Agustus 2008 formulir data anak sudah terkumpul. Kegiatan ini merupakan bentuk usaha Dewan Paroki bekerja sama dengan guru-guru agama Katolik dalam melayani keperluan umat.
Orang tua/wali anak akan mendapatkan pengarahan pada Minggu 3 Agustus jam 10.00 wita di Pendopo Santo Yoseph. Ada pun siswa tingkat SMA dapat bergabung dalam pelajaran agama Katolik yang diselenggarakan di Katedral. (zo)
26 Juli 2008
LITURGI
PELATIHAN PADUAN SUARA
Paduan Suara / Koor adalah sebuah cabang seni musik dan merupakan suatu ketrampilan yang memiliki ukuran keindahan musikal yang dapat diapresiasi oleh pemerhati serta memerlukan proses belajar/ latihan. Paduan suara/koor dilakukan secara berkelompok (ansamble) dimana vokal adalah sumber musiknya. Menyadari bahwa Paduan Suara Paroki (PSP) Gereja St.Perawan Maria-Kelayan masih memerlukan peningkatan kualitas ketrampilan dasar yang dimiliki oleh penyanyinya, maka pada hari Senin-Selasa, 7-8 Juli 2008 pukul 19.00 – 22.00 WITA di pendopo Santo Yosef dilaksanakan pelatihan vokal untuk anggota paduan suara. Pelatihan yang dibimbing oleh Bp. Frans Suharto, seorang pelatih koor di Keuskupan Bandung, ini diikuti oleh 40 orang peserta dari anggota PSP Serafim serta perwakilan umat yang memiliki minat dalam bidang tarik suara. Persiapan kegiatan ini dilakukan dalam waktu beberapa hari saja. Semua berawal pada hari Kamis, 3 Juli 2008, ketika PSP Serafim mengadakan latihan terakhir untuk persiapan kaul kekal suster SFD, Bp. Frans yang saat itu mendampingi saudaranya berlatih bulu tangkis datang ke tempat latihan dan memberikan beberapa masukan. Merasa belum cukup dengan masukan yang diberikan oleh Bp Frans, maka Sdr. Toto selaku koordinator bidang liturgi meminta Bp Frans untuk memberikan pelatihan lebih lanjut.
Latihan pernapasan diafragmaDalam pelatihan tersebut, Bp Frans mengajarkan teknik-teknik vokal bagi para penyanyi paduan suara meliputi teknik pernafasan (dengan memanfaatkan diafragma), produksi suara (penempatan dan focus) serta resonansi. Ternyata hampir semua peserta merasa kesulitan dalam memanfaatkan diafragma dan memproduksi suara secara benar. Oleh karena itu Bp. Frans berpesan agar teknik yang diajarkannya dapat dilatih secara rutin, disiplin dan dikembangkan secara individual oleh masing-masing penyanyi serta tidak hanya mengandalkan proses latihan dalam kelompok. Terhadap kelompok paduan suara sendiri beliau berharap agar pada setiap latihan koor dimulai dengan berlatih teknik vokal ini. Penyeragaman kemampuan anggota paduan suara juga sangat diperlukan. Untuk itu bagi penyanyi paduan suara yang merasa kemampuan yang dimilikinya jauh di bawah anggota lain hendaknya berlatih lebih keras lagi.
Para peserta pelatihanTentang Pelatih
Bp Frans yang lahir pada 3 Agustus 1958, telah bergelut di bidang paduan suara selama 30 tahun. Saat ini aktif melatih PS Gita Prasama, SD Santa Ursula, Bandung dan tahun kemarin (2007), paduan suara yang dilatihnya ini meraih juara pertama pada Festival Paduan Suara antar SD Katolik se-Jawa Barat. Beliau mengaku tidak pernah mengikuti pendidikan musik secara formal, namun beliau telah belajar vokal dari banyak pakar seperti: Bp. FA Warsono, Ibu Catharina Leimena, Christopher Abimanyu, Ir. Sudaryanto, Ir. Indra Listyanto serta pernah aktif selama 3 tahun (1980-1983) di Paduan Suara Vocalista Sonora PML Yogyakarta. (smr)
Paduan Suara / Koor adalah sebuah cabang seni musik dan merupakan suatu ketrampilan yang memiliki ukuran keindahan musikal yang dapat diapresiasi oleh pemerhati serta memerlukan proses belajar/ latihan. Paduan suara/koor dilakukan secara berkelompok (ansamble) dimana vokal adalah sumber musiknya. Menyadari bahwa Paduan Suara Paroki (PSP) Gereja St.Perawan Maria-Kelayan masih memerlukan peningkatan kualitas ketrampilan dasar yang dimiliki oleh penyanyinya, maka pada hari Senin-Selasa, 7-8 Juli 2008 pukul 19.00 – 22.00 WITA di pendopo Santo Yosef dilaksanakan pelatihan vokal untuk anggota paduan suara. Pelatihan yang dibimbing oleh Bp. Frans Suharto, seorang pelatih koor di Keuskupan Bandung, ini diikuti oleh 40 orang peserta dari anggota PSP Serafim serta perwakilan umat yang memiliki minat dalam bidang tarik suara. Persiapan kegiatan ini dilakukan dalam waktu beberapa hari saja. Semua berawal pada hari Kamis, 3 Juli 2008, ketika PSP Serafim mengadakan latihan terakhir untuk persiapan kaul kekal suster SFD, Bp. Frans yang saat itu mendampingi saudaranya berlatih bulu tangkis datang ke tempat latihan dan memberikan beberapa masukan. Merasa belum cukup dengan masukan yang diberikan oleh Bp Frans, maka Sdr. Toto selaku koordinator bidang liturgi meminta Bp Frans untuk memberikan pelatihan lebih lanjut.
Latihan pernapasan diafragmaDalam pelatihan tersebut, Bp Frans mengajarkan teknik-teknik vokal bagi para penyanyi paduan suara meliputi teknik pernafasan (dengan memanfaatkan diafragma), produksi suara (penempatan dan focus) serta resonansi. Ternyata hampir semua peserta merasa kesulitan dalam memanfaatkan diafragma dan memproduksi suara secara benar. Oleh karena itu Bp. Frans berpesan agar teknik yang diajarkannya dapat dilatih secara rutin, disiplin dan dikembangkan secara individual oleh masing-masing penyanyi serta tidak hanya mengandalkan proses latihan dalam kelompok. Terhadap kelompok paduan suara sendiri beliau berharap agar pada setiap latihan koor dimulai dengan berlatih teknik vokal ini. Penyeragaman kemampuan anggota paduan suara juga sangat diperlukan. Untuk itu bagi penyanyi paduan suara yang merasa kemampuan yang dimilikinya jauh di bawah anggota lain hendaknya berlatih lebih keras lagi.
Para peserta pelatihanTentang PelatihBp Frans yang lahir pada 3 Agustus 1958, telah bergelut di bidang paduan suara selama 30 tahun. Saat ini aktif melatih PS Gita Prasama, SD Santa Ursula, Bandung dan tahun kemarin (2007), paduan suara yang dilatihnya ini meraih juara pertama pada Festival Paduan Suara antar SD Katolik se-Jawa Barat. Beliau mengaku tidak pernah mengikuti pendidikan musik secara formal, namun beliau telah belajar vokal dari banyak pakar seperti: Bp. FA Warsono, Ibu Catharina Leimena, Christopher Abimanyu, Ir. Sudaryanto, Ir. Indra Listyanto serta pernah aktif selama 3 tahun (1980-1983) di Paduan Suara Vocalista Sonora PML Yogyakarta. (smr)
SEPUTAR PAROKI
Kaul Kekal Suster SFD dan Pesta Panca Windu Hidup Membiara Suster Sophia SFD dan Suster Theresiani SFD
Pada perayaan ekaristi Minggu pagi, 6 Juli 2008, di paroki Kelayan dilangsungkan upacara kaul kekal Suster Theresiani Fahik, SFD dan Suster Sophia Evi Erlina, SFD serta Pesta Panca Windu (40 tahun) hidup membiara Suster Dominique Go Swan Nio, SFD. Perayaan tersebut dipimpin oleh Bapak Uskup, Mgr FX Prajasuta, MSF sebagai konselebran utama didampingi romo Allparis Pr, romo Lioe Fut Khin MSF dan 2 imam dari Keuskupan Palangka Raya.
Upacara kaul kekal dalam perayaan ekaristi tersebut diawali dengan penyerahan pihak keluarga para pengkaul kepada kongregasi. Selanjutnya suster Theresiani dan suster Sophia menyatakan janji setia, mengikrarkan kaul kekal yang kemudian disusul dengan pembaharuan kaul oleh suster Dominique dan dilanjutkan dengan penandatanganan akte kaul serta pemberkatan cincin.
Dalam homilinya bapak Uskup menyatakan berberapa hal sbb:
1. Hidup membiara hanya dapat dijalankan dengan iman.
2. Hidup membiara harus dihayati seperti orang yang berjalan dengan 2 kaki, kaki pertama
adalah kaul, dan yang kedua adalah komunitas.
3. Para religius hendaknya menyadari bahwa mereka tetap manusia yang mempunyai kelebihan dan kekurangan.
4. Kaul ketaatan, kemiskinan dan kemurnian yang dijalankan para religius hanya dapat memiliki arti bila ada peneguhan kasih.
Bila hidup membiara dihayati dengan beberapa hal tersebut, maka akan dapat menjadi berkat bagi diri sendiri, orang lain dan gereja. Sebaliknya bila kaul dilihat dari segi yuridis dan moral, maka hidup membiara akan menjadi sebuah beban.
Bapak uskup juga mengharap agar umat hendaknya ikut bersyukur pada Tuhan dan mendoakan para religius agar menghayati imannya secara benar. Di samping itu hendaknya keluarga-k
eluarga menjadi tempat pesemaian hidup religius mengingat keprihatinan keuskupan Banjarmasin sekarang ini adalah minimnya panggilan.
Secara khusus, dengan mengutip pernyataan ibu Theresa, bapak Uskup berpesan kepada suster yang berkaul dan para religius bahwa para religius tidak dipanggil untuk sukses tapi dipanggil untuk setia meneruskan kebaikan dan kasih Allah dalam gereja dan masyarakat.
Setelah perayaan ekaristi selesai, acara dilanjutkan dengan perayaan syukur di Aula SD Santa Maria. (smr)
Biodata suster yang berkaul kekal adalah sbb:
1. Sr Theresiani Theresia M. Frida Fahik, SFD
Lahir di Atambua/Bellu, 15 Oktober 1978 putri ke-6 dari sembilan bersaudara dari Bp. Petrus Yosef fahik (Alm) dan Ibu Anna Lan Moy. Pendididkan SD dan SMP dijalani di Atambua/Bellu kemudian melanjutkan ke SMUK di Kefamenanu/TTU dan lulus tahun 1998. Tahun 1999 masuk biara SFD di Medan, Sumatera Utara. Suster Theresiani mengawali tugasnya di Buntok tahun 2002-2005, kemudian pindah ke Muara Teweh dan pada tahun 2006-sekarang bertugas di Palangka Raya.
2. Suster Maria Sophia Evi Erlina, SFD
Lahir di Bundar, 24 Desember 1982 putri ke-7 dari delapan bersaudara dari Bp. Harip Tagan dan Ibu Nuramin. Mengenyam bangku SD di Muruga, Kec. Dusun Utara, tamat tahun 1992. Bangku SMP dijalani di Bundar, Kec. Dusun Utara dan melanjutkan ke SMU di Pulang Pisau, Kab. Kapuas, lulus tahun 1998. Tahun 1999 masuk biara di Pati-Jawa Tengah dan kemudian tahun 2002 melanjutkan ke biara SFD di Medan, Sumatera Utara. Tahun 2002-2004 Suster Sophia bertugas di Muara Teweh, kemudian pindah ke Palangka Raya dan bertugas di sana dari tahun 2004 sampai 2007. Sejak tahun kemarin (20/07) bertugas di Banjarmasin. Di paroki Kelayan, suster Sophia banyak berkecimpung dalam pembinaan misdinar dan Bina Iman Anak. (smr)
Pada perayaan ekaristi Minggu pagi, 6 Juli 2008, di paroki Kelayan dilangsungkan upacara kaul kekal Suster Theresiani Fahik, SFD dan Suster Sophia Evi Erlina, SFD serta Pesta Panca Windu (40 tahun) hidup membiara Suster Dominique Go Swan Nio, SFD. Perayaan tersebut dipimpin oleh Bapak Uskup, Mgr FX Prajasuta, MSF sebagai konselebran utama didampingi romo Allparis Pr, romo Lioe Fut Khin MSF dan 2 imam dari Keuskupan Palangka Raya.Upacara kaul kekal dalam perayaan ekaristi tersebut diawali dengan penyerahan pihak keluarga para pengkaul kepada kongregasi. Selanjutnya suster Theresiani dan suster Sophia menyatakan janji setia, mengikrarkan kaul kekal yang kemudian disusul dengan pembaharuan kaul oleh suster Dominique dan dilanjutkan dengan penandatanganan akte kaul serta pemberkatan cincin.
Dalam homilinya bapak Uskup menyatakan berberapa hal sbb:
1. Hidup membiara hanya dapat dijalankan dengan iman.
2. Hidup membiara harus dihayati seperti orang yang berjalan dengan 2 kaki, kaki pertama
adalah kaul, dan yang kedua adalah komunitas.3. Para religius hendaknya menyadari bahwa mereka tetap manusia yang mempunyai kelebihan dan kekurangan.
4. Kaul ketaatan, kemiskinan dan kemurnian yang dijalankan para religius hanya dapat memiliki arti bila ada peneguhan kasih.
Bila hidup membiara dihayati dengan beberapa hal tersebut, maka akan dapat menjadi berkat bagi diri sendiri, orang lain dan gereja. Sebaliknya bila kaul dilihat dari segi yuridis dan moral, maka hidup membiara akan menjadi sebuah beban.
Bapak uskup juga mengharap agar umat hendaknya ikut bersyukur pada Tuhan dan mendoakan para religius agar menghayati imannya secara benar. Di samping itu hendaknya keluarga-k
eluarga menjadi tempat pesemaian hidup religius mengingat keprihatinan keuskupan Banjarmasin sekarang ini adalah minimnya panggilan.Secara khusus, dengan mengutip pernyataan ibu Theresa, bapak Uskup berpesan kepada suster yang berkaul dan para religius bahwa para religius tidak dipanggil untuk sukses tapi dipanggil untuk setia meneruskan kebaikan dan kasih Allah dalam gereja dan masyarakat.
Setelah perayaan ekaristi selesai, acara dilanjutkan dengan perayaan syukur di Aula SD Santa Maria. (smr)
Biodata suster yang berkaul kekal adalah sbb:
1. Sr Theresiani Theresia M. Frida Fahik, SFD
Lahir di Atambua/Bellu, 15 Oktober 1978 putri ke-6 dari sembilan bersaudara dari Bp. Petrus Yosef fahik (Alm) dan Ibu Anna Lan Moy. Pendididkan SD dan SMP dijalani di Atambua/Bellu kemudian melanjutkan ke SMUK di Kefamenanu/TTU dan lulus tahun 1998. Tahun 1999 masuk biara SFD di Medan, Sumatera Utara. Suster Theresiani mengawali tugasnya di Buntok tahun 2002-2005, kemudian pindah ke Muara Teweh dan pada tahun 2006-sekarang bertugas di Palangka Raya.
2. Suster Maria Sophia Evi Erlina, SFD
Lahir di Bundar, 24 Desember 1982 putri ke-7 dari delapan bersaudara dari Bp. Harip Tagan dan Ibu Nuramin. Mengenyam bangku SD di Muruga, Kec. Dusun Utara, tamat tahun 1992. Bangku SMP dijalani di Bundar, Kec. Dusun Utara dan melanjutkan ke SMU di Pulang Pisau, Kab. Kapuas, lulus tahun 1998. Tahun 1999 masuk biara di Pati-Jawa Tengah dan kemudian tahun 2002 melanjutkan ke biara SFD di Medan, Sumatera Utara. Tahun 2002-2004 Suster Sophia bertugas di Muara Teweh, kemudian pindah ke Palangka Raya dan bertugas di sana dari tahun 2004 sampai 2007. Sejak tahun kemarin (20/07) bertugas di Banjarmasin. Di paroki Kelayan, suster Sophia banyak berkecimpung dalam pembinaan misdinar dan Bina Iman Anak. (smr)
Label:
seputar paroki
HABAR KOMKA
Bioskop Mini : Nonton Bareng Film Santo Paulus
Malam minggu jam 8, tanggal 28 Juni 2008 di pastoran Kelayan, Komka Santa Maria didukung oleh Rm. Allparis, Pr mengadakan nonton bareng film Santo Paulus.
Diiringi rintik hujan yang turun sejak sore hari, membuat suasana bioskop mini agak dingin. Sekitar 45 orang yang terdiri dari teman - teman OMK Santa Maria, umat Paroki Kelayan dan para suster SFD hadir pada malam itu dan meramaikan suasana nonton film Santo Paulus.
Duduk lesehan di atas karpet, membuat suasana kekeluargaan teman-teman KOMKA Santa Maria begitu terasa. Segala senda gurau dan canda tawa mengiringi nonton film tsb, jagung rebus juga disediakan teman-teman sebagai konsumsi sambil nonton, walau ada yang merasa jagung itu ketuaan jadi susah dimakan (hehehehe).
Diiringi rintik hujan yang turun sejak sore hari, membuat suasana bioskop mini agak dingin. Sekitar 45 orang yang terdiri dari teman - teman OMK Santa Maria, umat Paroki Kelayan dan para suster SFD hadir pada malam itu dan meramaikan suasana nonton film Santo Paulus.
Duduk lesehan di atas karpet, membuat suasana kekeluargaan teman-teman KOMKA Santa Maria begitu terasa. Segala senda gurau dan canda tawa mengiringi nonton film tsb, jagung rebus juga disediakan teman-teman sebagai konsumsi sambil nonton, walau ada yang merasa jagung itu ketuaan jadi susah dimakan (hehehehe).
Dalam film tsb, dikisahkan perjuangan Santo Paulus dalam mewartakan Kristus di masa itu dengan begitu banyak tantangan dihadapi.
Refleksi yang dapat ditarik oleh KOMKA Santa Maria dari film Santo Paulus tsb adalah: “Bagaimana kita dapat menjadi seorang Santo Paulus masa kini, yang berani mewartakan kasih Kristus sebagai minoritas di tengah masyarakat dan juga di tengah peradaban zaman yang semakin maju?”
Buat teman-teman muda, mari bergabung bersama KOMKA Santa Maria Kelayan, sebab di bulan Agustus kita akan mengadakan perayaan bersama Tujuh Belasan, juga ada kegiatan-kegiatan orang muda lainnya, yang pastinya seru!!!! Ada Romo Allparis juga löh yang selalu setia mendampingi kita, hehehe... Gabung dengan KOMKA Santa Maria, ngapain nunggu???? (Tommy & Agus_bli)
Refleksi yang dapat ditarik oleh KOMKA Santa Maria dari film Santo Paulus tsb adalah: “Bagaimana kita dapat menjadi seorang Santo Paulus masa kini, yang berani mewartakan kasih Kristus sebagai minoritas di tengah masyarakat dan juga di tengah peradaban zaman yang semakin maju?”
Buat teman-teman muda, mari bergabung bersama KOMKA Santa Maria Kelayan, sebab di bulan Agustus kita akan mengadakan perayaan bersama Tujuh Belasan, juga ada kegiatan-kegiatan orang muda lainnya, yang pastinya seru!!!! Ada Romo Allparis juga löh yang selalu setia mendampingi kita, hehehe... Gabung dengan KOMKA Santa Maria, ngapain nunggu???? (Tommy & Agus_bli)
DARI PASTOR PAROKI
TAHUN PAULUS
Saudara-saudara yang terkasih, Gereja mencanangkan bahwa tahun 2008-2009 sebagai Tahun Paulus, yaitu memperingati kelahiran santo Paulus . Tentu bukan masalah tepat tidaknya hari kelahiran Paulus. Gereja perlu menggali semangat santo Paulus, bagaimana ia mewartakan Injil dengan semangat yang berkobar. Saya tulskan cuplikan tentang Santo Paulus yang bersemangat untuk mewartkan Injil serta menghayatinya tanpa mengenal lelah.
“Kepribadian Paulus yang mampu dalam segala bidang ditampakkan dengan jelas dalam surat-suratnya, sebagaimana juga temperamennya, sifat kebapaan rohaninya, ketekunannya dan semangatnya yang berapi-api serta keberaniannya untuk mewartakan Injil. Dia memberi gambaran yang sangat jelas tentang dirinya sebagai seorang yang keras, tanpa kenal lelah dan tanpa cela dihadapan siapapun atau dan dalam hal apapun.
Dengan mengingat kata-kata Yesus, ia mengartikan penderitaan-penderitaannya: “Jika mereka menganiaya aku, mereka akan menganiaya kamu juga”. Yang ia maksudkan ialah “setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”, dan harus “mengalami banyak sengsara untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Keyakinannya ini didasarkan pada pengalaman pribadi. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus Paulus menulis: “Sampai pada saat ini kami lapar, haus dan telanjang, dipukuli dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat”. Reaksinya adalah jelas bersifat injili: “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu”[1].
Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus, ia menulis “dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata”, Paulus “membanggakan diri” bahwa ia lebih kuat daripada para musuhnya oleh karena penderitaan dan “kelemahan”nya: “ Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham! Apakah mereka pelayan Kristus? – aku berkata seperti orang gila – aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dll.”
Semoga, semangat Santo Paulus ini menjadi inspirasi kita dalam meawrtakan Injil. Kita mampu melihat tempat kita berada menjadi harapan untuk mewartakan Injil.
RIWAYAT DAN PERJALANAN MISI RASUL PAULUS
Riwayat Singkat Hidup Paulus
Saulus/Paulus lahir di Tarsus daerah Kilikia, sebuah pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani. Ia dibesarkan dan dididik dalam kalangan Farisi oleh rabi terkenal Gamaliel. Ia dengan tegas dan fanatik mempertahankan agama Yahudi dan menaati hukum Taurat. Saulus berbakat sebagai seorang organisator dan pemimpin. Ia tegas, ramah, mudah marah namun setia pada teman-temannya. Ia seorang terpelajar dan pandai mengarang. Di sela-sela kerasulannya Paulus membuat kemah untuk nafkah hidup.
Pada awalnya, Saulus menganiaya umat Kristen perdana. Ia juga menyetujui pembunuhan Stefanus. Namun dalam perjalanan ke Damsyik (Damaskus) untuk mengorganisasi penangkapan orang-orang Kristen di kota itu, ia mengalami pengelihatan Yesus sehingga membutakan matanya. Setelah disembuhkan oleh Ananias, seorang murid Tuhan di Damsyik dan dibaptis, ia terpaksa mengungsi ke tanah Arab. Tiga tahun kemudian, ia meninggalkan daerah itu menuju Yerusalem dan bertemu dengan rasul-rasul yang menjadi murid Yesus. Di situ ia menumpang di rumah Petrus selama 15 hari dan kemudian pulang kembali ke Tarsus. Setelah 14 tahun di Tarsus, ia pergi lagi ke Yerusalem dan menggabungkan diri dengan komunitas para Rasul untuk mengikuti sidang (konsili) di Yerusalem tentang sunat.
Perjalanan Misi I : th. 44-49 (Kis 13:1-14:28)
Semula Saulus pergi bersama Barnabas ke pelabuhan Seleukia lalu dari sana berlayar ke Siprus sampai ke Antiokia. Dalam perjalanan misi ini ada perubahan nama dari Saulus (nama Yahudi) menjadi Paulus (nama Romawi). Cara pendekatan Paulus dalam misinya seperti Yesus dalam Injil, yaitu pergi ke Sinagoga dan pada hari Sabat berkotbah di rumah ibadat. Banyak orang Yahudi dan penganut agama Yahudi yang bertobat dan seluruh penduduk kota berkumpul untuk mendengarkan Paulus pada hari Sabat berikutnya.
Kabar kebangkitan Kristus yang disampaikan Paulus dan Barnabas juga mendatangkan pertobatan bagi orang-orang bukan Yahudi dan bangsa-bangsa lain sehingga memperluas penyebaran Firman Allah. Oleh karena para pembesar kota itu iri hati terhadap pengaruh yang dibawa Paulus dan Barnabas, maka mereka menganiaya serta mengusir Paulus dan Barnabas sehingga keduanya meninggalkan Antiokia menuju Ikonium.
Di Ikonium, melalui kotbah, tanda-tanda dan mujizat, orang-orang Yahudi dan Yunani banyak yang menjadi percaya. Sementara itu sekelompok orang Yahudi lain merencanakan untuk menganiaya kedua rasul itu sehingga kedua rasul itu menyingkir ke Listra untuk melanjutkan pewartaan. Lagi-lagi di Listra mereka mendapatkan penganiayaan oleh orang-orang Yahudi dari Antiokia dan Ikonium yang menghasut rakyat untuk membunuh kedua rasul itu sehingga mereka berangkat ke Derbe.
Setelah mewartakan Injil di Derbe dan memperoleh banyak murid, mereka kembali ke Antiokia melalui Listra, Ikonium (tempat mereka pernah dianiaya). Mereka meneguhkan orang-orang yang bertobat melalui pengajaran serta mengangkat para pemimpin yang disebut penatua untuk melaksanakan pewartaan setelah Paulus dan Barnabas pergi.
Perjalanan Misi II : th.49-52 (Kis 15:36-18:22)
Pada perjalanan misi kedua, Paulus tidak bersama dengan Barnabas lagi. Ia membawa Silas ke Syria dan Kilikia. Dari situ Paulus pergi ke Derbe lalu ke Listra dan berjumpa dengan seorang murid bernama Timotius. Timotius diajak Paulus untuk mengunjungi dan menguatkan jemaat yang telah ada serta jemaat yang baru dibentuk. Paulus mengutip prinsip tunduk kepada hukum untuk memenangkan mereka yang berada di bawah hukum dengan menyunat Timotius yang merupakan seorang Yahudi agar tidak mendatangkan sandungan dalam mewartakan Injil di tengah-tengah orang Yahudi. Selanjutnya Roh Kudus menunjukkan pada Paulus bahwa ia harus pergi ke Makedonia, di benua Eropa.
Di Makedonia, di kota Filipi Paulus mendirikan jemaat yang terdiri dari orang-orang yang dulunya kafir. Di kota itu pula Paulus dan Silas dituduh menyebarkan ajaran yang melawan hukum sehingga mereka dicambuk dan dipenjara. Setelah melintasi jalan melalui Amfipolis dan Apolonia, Paulus dan Silas tiba di Tesalonika. Di situ banyak orang bergabung dengan Pulus dan Silas sehingga menimbulkan suatu permusuhan yang luar biasa dari pihak orang-orang Yahudi. Penganiayaan ini menghalangi Paulus, Silas dan Timotius untuk tinggal lebih lama di Tesalonika dan memaksa mereka lari ke Berea. Di sana mereka diterima dengan hangat tetapi sekelompok orang Tesalonika tetap mengejar mereka sehingga Paulus harus menyingkir ke Athena.
Di Athena, Paulus harus menghadapi para penyembah berhala dan ia diejek serta ditolak saat berbicara mengenai kebangkitan. Selanjutnya Paulus memutuskan untuk pergi ke Korintus, suatu tempat yang terkenal dengan imoralitasnya. Meskipun demikian, Paulus berhasil membuat banyak orang Yahudi dan orang kafir bertobat sehingga ia mendirikan jemaat di Korintus dan kota-kota sekitarnya. Setelah lebih dari setahun tinggal di kota itu Paulus berlayar ke Efesus menuju Kaisarea. Ia kemudian tinggal sebentar di Yerusalem dan mengakhiri perjalanan misi keduanya dengan kembali ke Antiokia.
Perjalanan Misi III: th. 53-58 (Kis 18:22-21:14)
Paulus memulai perjalanan misi ketiganya dari Asia kecil menuju Efesus. Di situ ia tinggal selama 2 tahun dan menulis surat kepada jemaat di Galatia dan surat pertama kepada jemaat di Korintus. Saat itu terjadi huru hara karena Paulus dituduh menyesatkan banyak orang sehingga setelah huru hara mereda Paulus pergi ke Makedonia dan menguatkan jemaat-jemaat yang telah didirikannya. Kemudian ia datang ke Miletus dan bertemu dengan para penatua yang memimpin jemaat di Efesus. Jalur perjalanan Paulus bergerak ke pulau Kos, Rodos dan ke pelabuhan Patara menuju Siprus ke pelabuhan Tirus, Ptolemais dan Kaisarea.
Perjalanan menuju Roma (Kis 21:17-28:31)
Meskipun orang-orang Kaisarea telah berusaha mencegah Paulus supaya jangan ke Yerusalem, Paulus tetap pergi ke sana dan akhirnya ditangkap karena dituduh menajiskan Bait Allah. Paulus tinggal di penjara selama dua tahun. Karena dia memiliki kewarganegaraan Romawi, maka ia dapat naik banding pada pengadilan Kaisar di Roma. Peristiwa kapal karam di pulau Malta pada perjalanannya ke Roma membuatnya tinggal selama 3 bulan musim dingin di Malta. Di sana Paulus melakukan penyembuhan terhadap penduduk setempat. Ketika akhirnya tiba di Roma, Paulus menjalani tahanan rumah selama 2 tahun. Selama masa ini diyakini bahwa Paulus menulis surat untuk Gereja di Efesus, Kolose dan Filipi. Paulus juga menulis surat-surat pribadi untuk Filemon, Timotius dan Titus. (smr)
Sumber Pustaka:
1. A.Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja III, Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1993.
2. Dianne Bergant CSA & Robert J Karris OFM (editor), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, LBI, Kanisius, Yogyakarta, 2002.
3. Michael Collins & Mattew A.Price, The Story of Christianity, Kanisius, 2006.
4. Gregorius Sabinus, CP, Bahan Kursus Kitab Suci, 2006.
MISI BERARTI MENINGGALKAN
Misi berarti meninggalkan,
Pergi, melepas segala sesuatu,
Keluar dari diri sendiri,
Memecah dinding keegoisan yang memenjarakan kita ke dalam ke”aku”an
Misi berarti berhenti berkutat pada diri sendiri seolah-olah kita adalah pusat dari segala sesuatu dan pusat kehidupan.
Misi berarti menolak terikat pada masalah-masalah dunia yang kecil di mana kita termasuk di dalamnya: Kemanusiaan itu jauh lebih besar.
Misi selalu berarti meninggalkan,
tetapi tidak selalu mengadakan perjalanan.
Di atas semua itu, misi berarti membuka diri sendiri bagi sesama, sebagai saudara dan saudari, menemukan mereka, menjumpai mereka.
(Uskup Agung Helder Camara)
Saudara-saudara yang terkasih, Gereja mencanangkan bahwa tahun 2008-2009 sebagai Tahun Paulus, yaitu memperingati kelahiran santo Paulus . Tentu bukan masalah tepat tidaknya hari kelahiran Paulus. Gereja perlu menggali semangat santo Paulus, bagaimana ia mewartakan Injil dengan semangat yang berkobar. Saya tulskan cuplikan tentang Santo Paulus yang bersemangat untuk mewartkan Injil serta menghayatinya tanpa mengenal lelah.“Kepribadian Paulus yang mampu dalam segala bidang ditampakkan dengan jelas dalam surat-suratnya, sebagaimana juga temperamennya, sifat kebapaan rohaninya, ketekunannya dan semangatnya yang berapi-api serta keberaniannya untuk mewartakan Injil. Dia memberi gambaran yang sangat jelas tentang dirinya sebagai seorang yang keras, tanpa kenal lelah dan tanpa cela dihadapan siapapun atau dan dalam hal apapun.
Dengan mengingat kata-kata Yesus, ia mengartikan penderitaan-penderitaannya: “Jika mereka menganiaya aku, mereka akan menganiaya kamu juga”. Yang ia maksudkan ialah “setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”, dan harus “mengalami banyak sengsara untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Keyakinannya ini didasarkan pada pengalaman pribadi. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus Paulus menulis: “Sampai pada saat ini kami lapar, haus dan telanjang, dipukuli dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat”. Reaksinya adalah jelas bersifat injili: “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu”[1].
Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus, ia menulis “dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata”, Paulus “membanggakan diri” bahwa ia lebih kuat daripada para musuhnya oleh karena penderitaan dan “kelemahan”nya: “ Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham! Apakah mereka pelayan Kristus? – aku berkata seperti orang gila – aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dll.”
Semoga, semangat Santo Paulus ini menjadi inspirasi kita dalam meawrtakan Injil. Kita mampu melihat tempat kita berada menjadi harapan untuk mewartakan Injil.
RIWAYAT DAN PERJALANAN MISI RASUL PAULUS
Riwayat Singkat Hidup Paulus
Saulus/Paulus lahir di Tarsus daerah Kilikia, sebuah pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani. Ia dibesarkan dan dididik dalam kalangan Farisi oleh rabi terkenal Gamaliel. Ia dengan tegas dan fanatik mempertahankan agama Yahudi dan menaati hukum Taurat. Saulus berbakat sebagai seorang organisator dan pemimpin. Ia tegas, ramah, mudah marah namun setia pada teman-temannya. Ia seorang terpelajar dan pandai mengarang. Di sela-sela kerasulannya Paulus membuat kemah untuk nafkah hidup.
Pada awalnya, Saulus menganiaya umat Kristen perdana. Ia juga menyetujui pembunuhan Stefanus. Namun dalam perjalanan ke Damsyik (Damaskus) untuk mengorganisasi penangkapan orang-orang Kristen di kota itu, ia mengalami pengelihatan Yesus sehingga membutakan matanya. Setelah disembuhkan oleh Ananias, seorang murid Tuhan di Damsyik dan dibaptis, ia terpaksa mengungsi ke tanah Arab. Tiga tahun kemudian, ia meninggalkan daerah itu menuju Yerusalem dan bertemu dengan rasul-rasul yang menjadi murid Yesus. Di situ ia menumpang di rumah Petrus selama 15 hari dan kemudian pulang kembali ke Tarsus. Setelah 14 tahun di Tarsus, ia pergi lagi ke Yerusalem dan menggabungkan diri dengan komunitas para Rasul untuk mengikuti sidang (konsili) di Yerusalem tentang sunat.
Perjalanan Misi I : th. 44-49 (Kis 13:1-14:28)
Semula Saulus pergi bersama Barnabas ke pelabuhan Seleukia lalu dari sana berlayar ke Siprus sampai ke Antiokia. Dalam perjalanan misi ini ada perubahan nama dari Saulus (nama Yahudi) menjadi Paulus (nama Romawi). Cara pendekatan Paulus dalam misinya seperti Yesus dalam Injil, yaitu pergi ke Sinagoga dan pada hari Sabat berkotbah di rumah ibadat. Banyak orang Yahudi dan penganut agama Yahudi yang bertobat dan seluruh penduduk kota berkumpul untuk mendengarkan Paulus pada hari Sabat berikutnya.
Kabar kebangkitan Kristus yang disampaikan Paulus dan Barnabas juga mendatangkan pertobatan bagi orang-orang bukan Yahudi dan bangsa-bangsa lain sehingga memperluas penyebaran Firman Allah. Oleh karena para pembesar kota itu iri hati terhadap pengaruh yang dibawa Paulus dan Barnabas, maka mereka menganiaya serta mengusir Paulus dan Barnabas sehingga keduanya meninggalkan Antiokia menuju Ikonium.
Di Ikonium, melalui kotbah, tanda-tanda dan mujizat, orang-orang Yahudi dan Yunani banyak yang menjadi percaya. Sementara itu sekelompok orang Yahudi lain merencanakan untuk menganiaya kedua rasul itu sehingga kedua rasul itu menyingkir ke Listra untuk melanjutkan pewartaan. Lagi-lagi di Listra mereka mendapatkan penganiayaan oleh orang-orang Yahudi dari Antiokia dan Ikonium yang menghasut rakyat untuk membunuh kedua rasul itu sehingga mereka berangkat ke Derbe.
Setelah mewartakan Injil di Derbe dan memperoleh banyak murid, mereka kembali ke Antiokia melalui Listra, Ikonium (tempat mereka pernah dianiaya). Mereka meneguhkan orang-orang yang bertobat melalui pengajaran serta mengangkat para pemimpin yang disebut penatua untuk melaksanakan pewartaan setelah Paulus dan Barnabas pergi.
Perjalanan Misi II : th.49-52 (Kis 15:36-18:22)
Pada perjalanan misi kedua, Paulus tidak bersama dengan Barnabas lagi. Ia membawa Silas ke Syria dan Kilikia. Dari situ Paulus pergi ke Derbe lalu ke Listra dan berjumpa dengan seorang murid bernama Timotius. Timotius diajak Paulus untuk mengunjungi dan menguatkan jemaat yang telah ada serta jemaat yang baru dibentuk. Paulus mengutip prinsip tunduk kepada hukum untuk memenangkan mereka yang berada di bawah hukum dengan menyunat Timotius yang merupakan seorang Yahudi agar tidak mendatangkan sandungan dalam mewartakan Injil di tengah-tengah orang Yahudi. Selanjutnya Roh Kudus menunjukkan pada Paulus bahwa ia harus pergi ke Makedonia, di benua Eropa.
Di Makedonia, di kota Filipi Paulus mendirikan jemaat yang terdiri dari orang-orang yang dulunya kafir. Di kota itu pula Paulus dan Silas dituduh menyebarkan ajaran yang melawan hukum sehingga mereka dicambuk dan dipenjara. Setelah melintasi jalan melalui Amfipolis dan Apolonia, Paulus dan Silas tiba di Tesalonika. Di situ banyak orang bergabung dengan Pulus dan Silas sehingga menimbulkan suatu permusuhan yang luar biasa dari pihak orang-orang Yahudi. Penganiayaan ini menghalangi Paulus, Silas dan Timotius untuk tinggal lebih lama di Tesalonika dan memaksa mereka lari ke Berea. Di sana mereka diterima dengan hangat tetapi sekelompok orang Tesalonika tetap mengejar mereka sehingga Paulus harus menyingkir ke Athena.
Di Athena, Paulus harus menghadapi para penyembah berhala dan ia diejek serta ditolak saat berbicara mengenai kebangkitan. Selanjutnya Paulus memutuskan untuk pergi ke Korintus, suatu tempat yang terkenal dengan imoralitasnya. Meskipun demikian, Paulus berhasil membuat banyak orang Yahudi dan orang kafir bertobat sehingga ia mendirikan jemaat di Korintus dan kota-kota sekitarnya. Setelah lebih dari setahun tinggal di kota itu Paulus berlayar ke Efesus menuju Kaisarea. Ia kemudian tinggal sebentar di Yerusalem dan mengakhiri perjalanan misi keduanya dengan kembali ke Antiokia.
Perjalanan Misi III: th. 53-58 (Kis 18:22-21:14)
Paulus memulai perjalanan misi ketiganya dari Asia kecil menuju Efesus. Di situ ia tinggal selama 2 tahun dan menulis surat kepada jemaat di Galatia dan surat pertama kepada jemaat di Korintus. Saat itu terjadi huru hara karena Paulus dituduh menyesatkan banyak orang sehingga setelah huru hara mereda Paulus pergi ke Makedonia dan menguatkan jemaat-jemaat yang telah didirikannya. Kemudian ia datang ke Miletus dan bertemu dengan para penatua yang memimpin jemaat di Efesus. Jalur perjalanan Paulus bergerak ke pulau Kos, Rodos dan ke pelabuhan Patara menuju Siprus ke pelabuhan Tirus, Ptolemais dan Kaisarea.
Perjalanan menuju Roma (Kis 21:17-28:31)
Meskipun orang-orang Kaisarea telah berusaha mencegah Paulus supaya jangan ke Yerusalem, Paulus tetap pergi ke sana dan akhirnya ditangkap karena dituduh menajiskan Bait Allah. Paulus tinggal di penjara selama dua tahun. Karena dia memiliki kewarganegaraan Romawi, maka ia dapat naik banding pada pengadilan Kaisar di Roma. Peristiwa kapal karam di pulau Malta pada perjalanannya ke Roma membuatnya tinggal selama 3 bulan musim dingin di Malta. Di sana Paulus melakukan penyembuhan terhadap penduduk setempat. Ketika akhirnya tiba di Roma, Paulus menjalani tahanan rumah selama 2 tahun. Selama masa ini diyakini bahwa Paulus menulis surat untuk Gereja di Efesus, Kolose dan Filipi. Paulus juga menulis surat-surat pribadi untuk Filemon, Timotius dan Titus. (smr)
Sumber Pustaka:
1. A.Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja III, Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1993.
2. Dianne Bergant CSA & Robert J Karris OFM (editor), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, LBI, Kanisius, Yogyakarta, 2002.
3. Michael Collins & Mattew A.Price, The Story of Christianity, Kanisius, 2006.
4. Gregorius Sabinus, CP, Bahan Kursus Kitab Suci, 2006.
MISI BERARTI MENINGGALKAN
Misi berarti meninggalkan,
Pergi, melepas segala sesuatu,
Keluar dari diri sendiri,
Memecah dinding keegoisan yang memenjarakan kita ke dalam ke”aku”an
Misi berarti berhenti berkutat pada diri sendiri seolah-olah kita adalah pusat dari segala sesuatu dan pusat kehidupan.
Misi berarti menolak terikat pada masalah-masalah dunia yang kecil di mana kita termasuk di dalamnya: Kemanusiaan itu jauh lebih besar.
Misi selalu berarti meninggalkan,
tetapi tidak selalu mengadakan perjalanan.
Di atas semua itu, misi berarti membuka diri sendiri bagi sesama, sebagai saudara dan saudari, menemukan mereka, menjumpai mereka.
(Uskup Agung Helder Camara)
Label:
dari pastor paroki
02 Juli 2008
Triduum Dewan Paroki, Pengurus Wilayah dan Komunitas
“ DUC IN ALTUM “ (Bertolaklah ke tempat yang dalam)
Catatan Pembekalan Pengurus Dewan Paroki, Pengurus Wilayah dan Komunitas
Lukas 5:4 tentang pengalaman murid Yesus waktu diminta Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menerbarkan jala untuk menangkap ikan merupakan bahan permenungan selama penyelenggaraan Triduum yang dibawakan oleh Romo FX Sukendar, Pr (romo Paroki Santa Perawan Maria di Fatima, Sragen) pada tanggal 19-21 Juni 2008 di Aula Syalom.
Hidup adalah anugerah, panggilan dan perutusan untuk mewujudkan hadirnya Kerajaan Allah di dunia merupakan kesadaran yang harus dibangun oleh umat Katolik dan aktivis gereja supaya bisa bertolak ke “tempat yang dalam.” Dalam melaksanakan misi paroki maka
umat harus memperhatikan dan melaksanakan secara seimbang bidang-bidang pelayanan berikut:
1.Liturgi/Liturgia
2.Pewartaan/Kerygma
3.Persekutuan/Koinonia
Ketiga bidang pelayanan di atas bersifat internal atau menyangkut penghayatan hubungan dengan Tuhan tapi tidak mengubah dunia.
4. Pelayanan/Diakonia
Diakonia bersifat eksternal dan ada tindakan nyata di tengah-tengah masyarakat. Bidang pelayanan ini dapat mengubah dunia tapi tidak terkait langsung dalam hubungan dengan Tuhan. 5. Martyria
Bidang pelayanan ini terkait langsung dengan dunia dan hubungan dengan Tuhan, yaitu terlibat secara aktif berdasarkan semangat Injil.
Saat ini ada situasi negatif yang dialami oleh bangsa yang ditetapkan sebagai musuh bersama gereja sesuai Nota Pastoral KWI yaitu:
- Kekerasan
- Korupsi
- Kerusakan lingkungan.
Untuk menghadapi situasi tersebut diperlukan transformasi sosial dan gereja perlu meninggalkan habitus lama serta mengembangkan habitus baru berdasarkan Injil sehingga ada paradigma baru hidup menggereja. Dengan adanya paradigma baru hidup menggereja diharapkan ada perubahan pola hidup untuk memperbaharui masyarakat dengan perubahan sikap dikotomis (memisahkan dunia profan/sehari-hari dengan dunia sakral/hubungan dengan Tuhan) menjadi holistik/integral yaitu iman harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembekalan yang diselingi dengan beberapa permainan tersebut, romo Sukendar juga banyak membagikan pengalaman pengelolaan paroki Sragen di Keuskupan Agung Semarang yang meliputi metode Dinamika Pastoral, Fokus Pastoral, Perencanaan Strategis, dll.
Catatan Pembekalan Pengurus Dewan Paroki, Pengurus Wilayah dan Komunitas
Lukas 5:4 tentang pengalaman murid Yesus waktu diminta Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menerbarkan jala untuk menangkap ikan merupakan bahan permenungan selama penyelenggaraan Triduum yang dibawakan oleh Romo FX Sukendar, Pr (romo Paroki Santa Perawan Maria di Fatima, Sragen) pada tanggal 19-21 Juni 2008 di Aula Syalom.
Hidup adalah anugerah, panggilan dan perutusan untuk mewujudkan hadirnya Kerajaan Allah di dunia merupakan kesadaran yang harus dibangun oleh umat Katolik dan aktivis gereja supaya bisa bertolak ke “tempat yang dalam.” Dalam melaksanakan misi paroki maka
umat harus memperhatikan dan melaksanakan secara seimbang bidang-bidang pelayanan berikut:
1.Liturgi/Liturgia
2.Pewartaan/Kerygma
3.Persekutuan/Koinonia
Ketiga bidang pelayanan di atas bersifat internal atau menyangkut penghayatan hubungan dengan Tuhan tapi tidak mengubah dunia.
4. Pelayanan/Diakonia
Diakonia bersifat eksternal dan ada tindakan nyata di tengah-tengah masyarakat. Bidang pelayanan ini dapat mengubah dunia tapi tidak terkait langsung dalam hubungan dengan Tuhan. 5. Martyria
Bidang pelayanan ini terkait langsung dengan dunia dan hubungan dengan Tuhan, yaitu terlibat secara aktif berdasarkan semangat Injil.
Saat ini ada situasi negatif yang dialami oleh bangsa yang ditetapkan sebagai musuh bersama gereja sesuai Nota Pastoral KWI yaitu:
- Kekerasan
- Korupsi
- Kerusakan lingkungan.
Untuk menghadapi situasi tersebut diperlukan transformasi sosial dan gereja perlu meninggalkan habitus lama serta mengembangkan habitus baru berdasarkan Injil sehingga ada paradigma baru hidup menggereja. Dengan adanya paradigma baru hidup menggereja diharapkan ada perubahan pola hidup untuk memperbaharui masyarakat dengan perubahan sikap dikotomis (memisahkan dunia profan/sehari-hari dengan dunia sakral/hubungan dengan Tuhan) menjadi holistik/integral yaitu iman harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembekalan yang diselingi dengan beberapa permainan tersebut, romo Sukendar juga banyak membagikan pengalaman pengelolaan paroki Sragen di Keuskupan Agung Semarang yang meliputi metode Dinamika Pastoral, Fokus Pastoral, Perencanaan Strategis, dll.
CATATAN PELAKSANAAN RAKER 2008-2011
Rapat kerja Dewan Paroki periode 2008-2011 ini berbeda dengan raker sebelumnya. Pelaksanaan telah dimulai sejak 2 minggu sebelumnya, tepatnya saat dewan paroki menyebarkan kuisioner kepada ketua wilayah dan ketua komunitas untuk menjaring harapan dan partisipasi dari umat terhadap kerja dewan paroki. Sangat disayangkan bahwa tidak semua harapan dan partisipasi bisa tertampung karena ada beberapa komunitas yang terlambat mengumpulkan.
Seminggu kemudian, setelah kuisioner terkumpul, dewan paroki mengolah dan hasilnya digunakan untuk membantu menyusun rencana kerja masing-masing seksi. Tidak semua harapan dan usulan umat bisa tertuang dalam rencana kerja karena keterbatasan pengurus seksi dan karena pada umumnya wilayah dan komunitas lebih banyak memberikan usulan/harapannya namun sangat minim dalam memberikan kesediaan/partisipasi terhadap usulannya. Dalam waktu 1 minggu tiap seksi dalam dewan paroki menyusun rencana kerja untuk dipresentasikan.
Rabu-Jumat, 11-13 Juni 2008 di aula Syalom dilakukan presentasi rencana kerja oleh masing-masing seksi. Dalam kesempatan tsb, Mgr. FX Prajasuta, MSF memberikan pengarahan di depan pengurus dewan, ketua wilayah dan ketua komunitas yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan catatan laporan evaluasi Dewan Paroki Periode 2005-2008 oleh Bp. Andreas Sunarko. Setelah itu Romo Allparis, Pr memberikan arahan visi dan misi dewan paroki periode 2008-2011. Serba-serbi mengenai pelayanan sakramen juga disampaikan di depan peserta raker oleh Romo Allparis dan Romo Lioe Fut Khin. (smr)
Seminggu kemudian, setelah kuisioner terkumpul, dewan paroki mengolah dan hasilnya digunakan untuk membantu menyusun rencana kerja masing-masing seksi. Tidak semua harapan dan usulan umat bisa tertuang dalam rencana kerja karena keterbatasan pengurus seksi dan karena pada umumnya wilayah dan komunitas lebih banyak memberikan usulan/harapannya namun sangat minim dalam memberikan kesediaan/partisipasi terhadap usulannya. Dalam waktu 1 minggu tiap seksi dalam dewan paroki menyusun rencana kerja untuk dipresentasikan.
Rabu-Jumat, 11-13 Juni 2008 di aula Syalom dilakukan presentasi rencana kerja oleh masing-masing seksi. Dalam kesempatan tsb, Mgr. FX Prajasuta, MSF memberikan pengarahan di depan pengurus dewan, ketua wilayah dan ketua komunitas yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan catatan laporan evaluasi Dewan Paroki Periode 2005-2008 oleh Bp. Andreas Sunarko. Setelah itu Romo Allparis, Pr memberikan arahan visi dan misi dewan paroki periode 2008-2011. Serba-serbi mengenai pelayanan sakramen juga disampaikan di depan peserta raker oleh Romo Allparis dan Romo Lioe Fut Khin. (smr)
Langganan:
Postingan (Atom)