15 Agustus 2009

PROFIL: VANIA BENEDICTA AMANDA


Talenta Amanda di bidang tarik suara sudah nampak sejak kecil. Putri pertama dari pasangan Like-Junaedi yang lahir 25 Februari 2003 ini akan lebih cepat tidur bila sudah diajak menyanyi dulu.

Empat April 2009, Amanda ditujuk mewakili TK Santa Maria untuk mengikuti lomba menyanyi solo antar TK se-kotamadya Banjarmasin. Dengan persiapan 2 hari dan dibimbing oleh Sr. Sophia,SFD mas Sudirwan dan keluarga, Puji Tuhan! Amanda meraih juara I.

Dengan kemenangan ini, kembali Amanda berjuang menghadapi lomba untuk tingkat provinsi. 26 April 2009, di Banjarbaru, dengan menyanyikan lagu wajib “Aku Anak Indonesia” dan lagu pilihan “Ibu Pertiwi”, Amanda mengungguli peserta dari 9 kabupaten di Kalsel. Piala juara I pun dibawa pulang putri yang memiliki hobi menyanyi dan membaca ini.

Perjuangan selanjutnya adalah menjadi duta Kalsel untuk mengikuti lomba yang sama pada tanggal 31 Mei – 5 Juni di Yogyakarta. Keluarga, Sr. Sophia, mas Sudirwan dan ibu Rosarini telah melatih dengan maksimal, namun sayang pada lomba dengan juri Odi Agam, Endang S.Taurina, dll ini Amanda tersisih pada babak awal di antara perwakilan 33 propinsi. Patut disyukuri bahwa murid TK Santa Maria th 2007-2009 ini mampu menjadi duta Kalsel di tingkat Nasional. (smr)

LOMBA MENGARANG

Adik-adik Tunas Gereja,

Ikut memeriahkan Peringatan Hari Ulang Tahun Paroki Santa Perawan Maria YTTN, Bupar edisi Juli ini mengajak adik-adik untuk menuliskan pengalaman adik-adik dalam mengikuti kegiatan paroki. Entah itu sebagai umat di komunitas, wilayah, paroki atau dalam mengikuti Sekami, misdinar, legio Maria Junior dsb. Ceritakan dalam tulisan tsb bagaimana perasaan dan pengalaman adik-adik. Panjang tulisan tidak boleh lebih dari 2 halaman folio.

Lomba ini berlaku untuk adik-adik SD & SMP. Tulisan dikirim ke Redaksi Bupar atau Sekretariat Paroki paling lambat 15 September 2009. Tulisan akan dinilai dan 3 pemenang akan mendapatkan piala. Bagi yang berhasil memperoleh juara I, tulisannya akan dimuat pada buku kenangan 70 Tahun Paroki.

“KAMI SANGAT SENANG”


JAMBORE MISDINAR DAN SEKAMI MISIONER,

BANJARBARU, 27 – 29 JUNI 2009

SMPK Sanjaya Banjarbaru selama 3 hari menjadi saksi kebersamaan Misdinar dan Sekami se-Keuskupan Banjarmasin. Tak kurang dari 250 anak berinteraksi dalam kegiatan yang dikemas penuh dengan permainan dan kreativitas. Jambore diselenggarakan sebagai tanda penutupan Tahun Paulus dan bertujuan menanamkan semangat misioner sejak kecil serta memupuk panggilan. Paroki Santa Perawan Maria mengirimkan 20 anak dengan pendamping Sr. Sophia, SFD dan Fr. Tommy, CMM.

Dibuka Bapak Uskup

Bapak Uskup Petrus Boddeng Timang berkenan membuka acara jambore didampingi Rm.Supriyadi CM (Ketua Penutupan Tahun Paulus) dan Rm. Medi, CM selaku Koord. Jambore. Ibu Anna Trombine, bagian acara, langsung melumerkan kebekuan dengan game ice breaking dan mencampur anak dari berbagai paroki dalam 17 kelompok.

Out Bond merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan. Mereka berlomba dengan 10 wahana, tersebar di komplek gereja Banjarbaru. Out bond ini dikemas dengan cerita Misi Meratus dan melatih kerja sama serta kreativitas untuk mencapai tujuan misioner.

Api Unggun & Pentas Seni

Malam puncak adalah acara api unggun dengan penampilan aksi pentas tiap paroki. Di latar belakangi api yang menyala, setiap kontingen unjuk kebolehan. Rata-rata menyajikan nyanyi dan tari. Paroki Kelayan menyajikan tampilan beda, yakni drama komedi berjudul “ORLANDO”, mengisahkan kehidupan seorang “mantan Pastor” yang lepas jubah karena tertarik lawan jenis. Yohanes, selaku lakon utama memerankan tokoh dengan baik, didukung “Uskup” Rheza, Lintang sebagai istri Orlando, Jojo, William, Fanny, menjadi anak yang kacau, Ekky dan Erny sebagai polisi, Dita dan Imelda sebagai narator. Pesan yang ingin disampaikan adalah umat ikut mendukung para pastor, biarawan dan biarawati untuk setia pada panggilannya. Di penghujung acara, panitia mengumumkan bahwa drama Orlando yang disutradarai Fr.Tommy CMM mendapat juara I, kontan seluruh anak Kelayan melonjak berteriak!

Pameran & Misa Penutupan Tahun Paulus

Gambaran misi dan tugas pewartaan pada hari ketiga dibawakan oleh Rm.Medi, Rm.Allparis, & Rm. Greg. Anak-anak selanjutnya melihat Ekspo Panggilan yang ditampilkan oleh berbagai kongregasi. Jambore diakhiri dengan misa Penutupan Tahun Paulus di Gereja Bunda Maria Banjarbaru dengan selebran utama bapak Uskup.

Kesan dan Pesan

Meski tidur berhampar karpet dan kesulitan mandi, anak-anak mengaku sangat senang dengan materi acara jambore. “Seneng banget,” kata Lintang, salah satu misdinar Paroki Kelayan yang ikut,“Dapat banyak teman dan acaranya heboh! Sekarang, kami misdinar jadi tambah akrab. Kalau bisa diadakan lagi acara yang seperti jambore, waktunya lebih lama dan game-gamenya lebih seru!” katanya. Wah…(zo)

21 Juni 2009

MEWARTAKAN KASIH TUHAN


Oleh: Romo A. Lioe Fut Khin, MSF

Umat beriman Paroki Kelayan yang terkasih,

Masa Paskah sudah berlalu, bulan Maria juga sudah lewat, sekarang kita masuk dalam bulan Juni yang secara liturgis merupakan masa biasa sampai menjelang masa adven nanti. Dalam bulan ini juga sekolah-sekolah libur dan banyak orang bepergian dan sudah diperkirakan gereja akan menjadi agak sepi.

Apakah dua hal ini: suasana yang biasa-biasa dan agak sepi ini akan membuat kita juga yang tinggal menjadi kurang bersemangat? Apakah kita juga akan tergoda untuk libur ke gereja, libur dalam kegiatan komunitas? Mumpung ... romonya juga sering pergi. Dalam situasi seperti inilah kesetiaan dan keseriusan kita dalam hidup iman dan hidup menggereja diuji. Apakah iman kita iman ikutan-ikutan, hura-hura atau iman supaya dilihat orang atau iman yang hanya untuk Bapa di sorga yang mengetahuinya.

Kita ingat ketika Yesus memuji hamba yang setia: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21). Menurut pengalaman saya, setia dalam perkara kecil lebih sulit daripada setia dalam perkara besar. Jika kita diberi kepercayaan untuk menjadi penanggungjawab dalam suatu perayaan atau tugas besar, biasanya kita akan melaksanakannya dengan sepenuh hati dan penuh dedikasi. Tetapi jika harus melaksanakan tugas rutin sehari-hari, kita sering merasa bosan atau malas atau menunda-nunda. Ketika saya diminta pergi sebagai misionaris ke Madagascar, dengan penuh semangat saya berangkat. Tetapi sesudah beberapa waktu di sana, ketika saya harus melaksanakan tugas sehari-hari, mengajar, bekerja di kebun, mengumpulkan kotoran sapi untuk pupuk, membersihkan kamar dan sebagainya, sering muncul rasa jenuh dan tidak bersemangat. Membuat suatu langkah yang besar itu mudah. Tetapi untuk maju terus dengan langkah yang kecil-kecil setiap hari memang diperlukan ketekunan dan kesetiaan. Dan buah dari semuanya itu adalah “masuk dan turut dalam kebahagiaan tuanmu”, suatu kedamaian jiwa, kepuasan batin.

Memang iman kita hanya untuk Bapa yang di sorga saja yang mengetahuinya. Namun sebagai perwujudannya, orang lain juga harus dapat merasakannya, bagaimana hidup dan keberadaan kita membawa damai dan sukacita Tuhan. Pernahkan ada suatu ketika seorang sahabat atau tetangga bertanya: bapa atau ibu koq selalu bahagia, selalu tersenyum, seperti orang yang tidak punya masalah? Padahal masalah kita tidak kalah serunya, tapi kita menghadapinya bersama Yesus … Berbahagialah kita jika kita pernah mengalami itu. Pada kesempatan seperti itu kita bisa bersaksi, bahwa kita memiliki Dia yang selalu siap sedia membantu hidup kita, menemukan jalan keluar dalam setiap persoalan kita. Kesempatan seperti ini menjadi kesempatan emas untuk membawa orang kepada Yesus.

Saya belum pernah mendengar hal seperti ini terjadi di Kelayan. Mungkin belum ada yang bercerita. Tetapi hidup beriman memang bukan untuk diri sendiri. Iman yang hidup selalu menarik yang lain dan memancar keluar untuk dibagikan. Mudah-mudahan kita semakin dipenuhi oleh semangat kasih Tuhan Yesus, entah masa nya baik atau tidak, entah sepi-sepi saja atau ramai di Gereja, kita harus mewartakan kasih Tuhan. Saranghamnida ! yang berarti I love you all.

HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS DAN PENERIMAAN KOMUNI PERTAMA


“Relasi Cinta Kasih sebagai Ujud Persatuan dengan Tuhan”


Minggu, 14 Juni 2009 pukul 08.00 Wita, perarakan 57 anak calon penerima komuni pertama didampingi orang tuanya, misdinar dan romo Allparis serta romo Fut memasuki gereja. Lagu “Tuhan Kau Satukan Kami” yang dimadahkan oleh paduan suara Remaka dan Komka mengawali perayaan ekaristi Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Kepada anak-anak calon penerima komuni pertama dan seluruh umat, romo Fut dalam homilinya menyampaikan bahwa pada hari itu merupakan hari istimewa bagi 57 anak yang akan menerima komuni pertama. Bukan anak-anak yang ingin menerima komuni tapi Yesus sendiri yang ingin bersatu dengan anak-anak. Yesus hadir dalam komuni itu. Persatuan terjadi dalam komuni yang kita terima karena kita menerima Tubuh Tuhan. Jadi waktu pembagian komuni saat romo mengatakan, “Tubuh Kristus,” umat harus menjawab, “Amin.”

Persatuan dengan Tuhan itu juga harus diwujudkan dalam kesatuan dengan sesama dan dalam relasi antara yang satu dengan yang lain. Kesatuan ini diungkapkan dengan relasi cinta kasih, berani memberi dan berkorban bagi sesama. Sebagai murid Yesus, mental pengemis yang hanya mau menerima dari orang lain harus kita hindarkan. Dalam perjamuan terkhir-Nya, Yesus berpesan, “lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku,” Yang dimaksud ini dalam konteks pesan Yesus tsb adalah memberikan diri-Nya dan hidup-Nya bagi orang lain.

Dengan menerima komuni, Yesus ingin kita melakukan apa yang Dia lakukan. Yesus telah menjadi terang bagi banyak orang sehingga kita pun hendaknya menjadi contoh bagi orang lain. Saat melihat orang sakit, Yesus tergerak oleh belas kasihan, maka kita pun harus bersikap demikian. Saat tergantung di kayu salib, Yesus berkata, “Tuhan ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Kalau kita bisa mengampuni orang lain yang bersalah dan menyakiti kita, berarti kita melakukan sesuatu sebagai kenangan akan Yesus dan Dia hidup dalam diri kita.

Saat menerima komuni, peristiwa itu tidak hanya di dalam gereja saja tapi kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita membawa Tuhan bagi orang lain dengan memberi kasih dan diri sendiri bagi orang lain.

Pada hari ini, 57 anak-anak dipersembahkan bagi Tuhan dan menjadi satu dengan Tuhan. Selanjutnya romo Fut menutup homilinya dengan ajakan untuk memohon pada Tuhan agar Tuhan membimbing anak-anak, sehingga komuni pertama menjadi awal pertumbuhan iman anak-anak.

Pada saat komuni, secara khusus anak-anak calon penerima komuni pertama mendapatkan kesempatan menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam wujud hosti dan anggur.

Setelah perayaan ekaristi selesai, acara dilanjutkan dengan pembagian sertifikat, kitab suci serta rosario di Aula Syalom dan ditutup dengan santap siang bersama. (smr)

AKTIVITAS TAMBAHAN DALAM MISA DI GEREJA

Perayaan Ekaristi (Misa) di gereja, khususnya Hari Minggu, merupakan puncak perayaan tertinggi dalam peribadatan Gereja Katolik. Jauh lebih tinggi dari pada doa harian pribadi, devosi-devosi dan novena. Karena dalam perayaan ekaristi kudus, Tuhan sendiri yang hadir dalam rupa roti dan anggur yang merupakan Tubuh dan Darah-Nya. Perayaan penebusan ini yang menjadikan kita sebagai anak-anak Allah. Dalam perayaan ekaristi kudus ini, kita mohon ampun atas semua dosa kita, mohon rahmat untuk seluruh aktivitas kita lewat intensi misa. Kita juga diajak untuk mendengarkan Sabda-Nya dan memahaminya lewat homili pemimpin ibadat. Kita juga diajak untuk berbagi kasih dengan semua yang hadir dalam perayaan itu dan kita boleh menerima Yesus sendiri dalam komuni kudus. Akhirnya semua perayaan yang agung itu ditutup dengan berkat untuk kita semua, supaya mereka yang hadir dan yang kita doakan dalam misa selalu berada dalam lindungan kasih-Nya.

Namun sayang, perayaan yang sungguh agung itu kerap mendapat penghormatan yang kurang maksimal dari diri kita sendiri. Sadar atau tidak kita telah berbuat tidak semestinya pada saat perayaan agung itu berlangsung. Ada beberapa “aktivitas” di luar ritus liturgi resmi Gereja Katolik yang sadar atau tidak sering kita lakukukan sebelum misa dan pada saat misa berlangsung, diantaranya adalah:

1. Ngobrol, ini adalah aktivitas yang paling sering dilakukan, apalagi sambil nunggu misa dimulai, santai dulu ahhhh …. ngobrol. Entah itu hal yang penting atau nggak penting. Yang saya heran pasti ada aja yang diomongin rasanya kalau nggak ngobrol barang sebentar aja, lidah udah gatel.

2. Comment, ini merupakan aktivitas tinggi yang kerap dilakukan sadar atau tidak oleh kita yang seharusnya khusuk berdoa. Entah mengomentari pakaian orang yang nggak matching, petugas liturgi yang kurang berkenan (padahal sudah tampil maksimal) atau bahkan pemimpin ibadat (alias Romo-nya) yang kok lama banget sih…

3. Bermain, aktivitas ini sering dilakukan oleh anak-anak balita. Namun tak jarang juga anak-anak yang sudah ikut komuni pertama masih ikut bermain, entah di dalam atau di halaman/ serambi gereja. Memang bermain adalah hak anak yang tidak bisa diganggu gugat. Namun tetap ada tempat dan waktu yang tepat. Tak jarang alasan klasik muncul, “daripada di dalam ganggu orang yang sedang doa, lebih baik di luar toh masih di lingkungan gereja”. Menurut saya, tinggal bagaimana orang tua memberikan pendidikan yang tegas dan tepat untuk anak. Saya rasa baik juga kalau memberikan pengertian dan penjelasan bahwa gereja itu tempat untuk apa? Ataukah memang perayaan misa sudah tidak menarik lagi? Sampai-sampai para orang tua seolah-olah kehabisan akal untuk memberikan pengertian pada anak-anaknya bahwa gereja tempat orang berdoa. Bandingkan saat si anak asyik menonton film kartun favoritnya sehingga marah bila diganggu,. … ah no comment!

4. Main HP, merupakan aktivitas usil yang dapat mengisi kekosongan (tapi kalau di dalam gereja pasti bukan pada tempatnya). Biasanya yang sering adalah main game dan SMS-an. Jelas hal ini sangat tidak dibenarkan, bahkan sebelum misa pun menurut saya sangat tidak bijak ber-SMS-an atau sekedar nge-games di HP.

5. Tidur, ini adalah aktivitas yang kerap dilakukan oleh mereka yang memiliki aktivitas tinggi dan pasti orangnya super sibuk. Kalau pekerja, pasti seorang yang workaholics (gila kerja). Kalau sedang bekerja pasti serius luar biasa, sampai kalau ada bawahannya yang tidur saat dia memimpin rapat pasti langsung di pecat. Atau kalau dia seorang pelajar/mahasiswa, pasti seorang yang teladan, yang nggak pernah tidur kalau sedang ada pelajaran di sekolah/kampus karena takut ketinggalan pelajaran. Nah gereja adalah tempat peristirahatan yang paling enak. Apalagi kalau di gerejanya ada AC, wah tambah suejuuuuk (mmhh… zzz… zzz … zzz …). Jelas ini tidak bisa dibenarkan. Siapkan hati dan budi saat mau misa. Mantapkan jiwa dan raga semantap kalau kita mau menghadapi ujian akhir semester.

6. Bengong alias ngelamun, aktivitas yang biasanya dilakukan oleh beberapa orang yang sedang mengalami masalah. Memang gereja menjadi tempat yang cocok dan ideal untuk hal ini. Sambil berharap mukjizat datang menghampiri dan semua beban hidup atau persoalan hilang dengan tiba-tiba. Perlu diingat bahwa Tuhan tidak serta merta memberi dalam sekejab bak sulap. Tapi Tuhan pasti memberi, hanya waktunya …. cuma Dia yang tahu. Tapi pasti tepat pada waktunya.

Mungkin masih ada aktivitas lain yang kerap terjadi dalam gereja. Saya hanya berharap kita dapat mengurangi semua aktivitas yang dirasa kurang atau bahkan tidak perlu dilakukan dalam gereja.

Akhirnya saya jadi ingat lagu “Saat Terakhir” dari ST 12 pada bagian reff-nya (syair suka-suka);

satu jam saja engkau tak bisa

khusuk ber-doa doa doa di gereja

namun bagimu ber face book ria

kok bisa tahan sampai laamaaa

oh sayangnya ……… (ib)


PENGALAMAN PERTAMA MENERIMA SAKRAMEN TOBAT

Sabtu 13 Juni 2009 jam 16.00 Rm. Allparis memulai ibadat Sakramen Tobat di gereja untuk 57 anak calon Komuni Pertama. Kegiatan ini melandasi kesiapan dan kepantasan dari anak-anak untuk menerimakan Tubuh dan Darah Kristus yang pertama kali pada perayaan ekaristi keesokan harinya.

Setelah ibadat singkat Rm. Allparis masuk ke dalam kamar pengakuan dan anak-anak duduk berbaris menunggu giliran pengakuan pribadi. Mereka rata-rata mengaku gugup dan deg-degan. Bahkan meski sudah diberi kertas panduan, masih ada beberapa anak yang kesulitan berbicara di dalam kamar pengakuan sehingga Rm.Paris memanggil para pembina untuk mengajarinya lagi. Kelegaan tampak di wajah anak-anak setelah mendapatkan nasihat dan penitensi. Mereka berdoa sesuai penitensinya di depan patung Bunda Maria di sisi kanan gereja. Bagaimana komentar mereka setelah keluar kamar pengakuan? Singkat saja,“Seneng dan lega,” kata mereka. Hubungan dengan Allah kembali menjadi dekat dan mendapatkan pendamaian. Saluran rahmat kasih Allah terpancar memenuhi hati membikin kesenangan, kelegaan dan berusaha hidup sesuai perintah-Nya. (zo)