25 Mei 2009

KELUARGA AMBIL BAGIAN DALAM PANGGILAN

Catatan Homili pada Minggu Panggilan, 3 Mei 2009
Homili oleh: Romo Aloysius Lioe Fut Khin, MSF
Bacaan: Kis 4:8-12a, 1 Yoh 3:1-2, Yoh 10:11-18

Salah satu acara dalam suatu tahbisan adalah penumpangan tangan oleh uskup dan imam. Imam baru diurapi dengan minyak suci dan setelah itu dilap dengan kasula. Ada suatu keyakinan di beberapa tempat bahwa bila orang tua meninggal, kasula tsb dimasukkan ke peti mati orang tuanya, sehingga ada bukti bahwa yang meninggal tsb adalah orang tua seorang imam. Hal ini diyakini akan mengantar yang meninggal tsb masuk surga karena kita tahu bahwa seseorang menjadi imam itu adalah karena jasa orang tuanya.
Panggilan menjadi imam/biarawan-I merupakan:

1. Tindakan iman
Panggilan tumbuh karena peranan keluarga. Imam/biarawan dan biarawati adalah pengorbanan hidup. Ini bukan berarti kesedihan atau sesuatu yang menyakitkan karena mereka menyerahkan diri secara bebas. Keputusan menjadi imam adalah suatu persembahan yang hidup.
Kurban imam, biarawan dan biarawati:
- Meninggalkan keluarga
- Meninggalkan kesenangan pribadi
- Perhatian yang lebih untuk umat/domba-dombanya.
Orang tua yang merelakan anak-anaknya menjadi imam pun harus berkorban berupa:
- Materi
- Tidak dapat bersama dengan anaknya.
- Tidak memiliki cucu

2. Panggilan sebagai untuk hidup anak-anak Allah
Unsur dunia mempengaruhi hidup seseorang untuk mengejar kesejahteraan hidup. Panggilan menjadi imam serta biarawan dan biarawati menunjukkan hidup ideal seorang anak-anak Allah tanpa dipengaruhi tuntutan untuk memenuhi kesejahteraan hidup. Dalam Kitab Suci dinyatakan bahwa ada orang yang tidak kawin demi Kerajaan Allah.
Keuskupan memerlukan imam serta biarawan dan biarawati. Di Banjarmasin, imam projo hanya 4 orang. Marilah kita mohon agar anak-anak tertarik dipanggil menjadi imam serta biarawan/i. (smr)

Tidak ada komentar: