12 Juni 2008

Dari Pastor Paroki


DARI KELUARGA TUMBUH PANGGILAN

Rm. Aloysius Lioe Fut Khin, MSF

Saudara-saudari terkasih,
Kita bersyukur bahwa kita boleh merayakan Paska dengan tenang dan khidmat khususnya selama Pekan Suci. Semoga saja ini bukan hanya perayaan rutin, tetapi sungguh ada kebangkitan juga dalam hidup iman, dalam hidup menggereja. Supaya tidak terjadi, sesudah Paska, gereja kembali sepi-sepi dan bangku gereja pada misa minggu banyak yang ompong.

Memang untuk memelihara iman kita, tidak cukup hanya sekedar menjadi katolik natal dan paska. Bahkan hanya sekedar hadir dalam perayaan ekaristi minggu pun belum cukup. Iman kita menuntut adanya spiritualitas, yakni suatu gaya hidup katolik, gaya hidup yang terlibat, mulai dari komunitas sampai ke tingkat yang lebih luas lagi, seluas Tuhan memanggil untuk “memakai” kita. Gaya hidup seperti ini hanya mungkin kalau kita terbuka terhadap bimbingan dan dorongan Roh Kudus.

Kita juga baru saja merayakan Minggu Panggilan Sedunia. Gereja mengajak semua pihak untuk berdoa bagi panggilan, khususnya panggilan untuk menjadi imam, biarawan-biarawati. Panggilan itu dari Tuhan. Jika sekarang ini panggilan berkurang, bukan karena Tuhan sudah uyuh memanggil, tetapi telinga yang dipanggil yang semakin tuli. Tuhan terus memanggil, tetapi hati yang dipanggil menjauh daripada-Nya. Untuk bisa mendengar panggilan Tuhan itu, kembali ke persoalan iman tadi. Apakah Tuhan masih menemukan iman di Kelayan? Apakah iman masih dijunjung tinggi di dalam keluarga? Apakah anak-anak sungguh menerima warisan iman yang sejati dari orang tua mereka?

Keluarga adalah seminari awal. Dalam keluarga anak mulai mengenal Tuhan, mulai mengalami kasih. Dari orang tua anak-anak mendapat contoh bagaimana mengungkapkan iman: berdoa-pribadi atau bersama, di rumah atau di gereja. Dari orang tua juga, anak belajar mewujudkan imannya dalam perbuatan kasih, mulai dari orang-orang serumah. Anak yang berdoa lahir dari keluarga yang berdoa. Anak yang beriman juga lahir dalam keluarga yang beriman. Semoga kita dapat bersyukur bahwa kita masih memiliki iman dan semoga kita tetap menjaga dan memeliharanya sebagai mutiara yang indah, yang deminya kita rela berkorban apa saja.

Tidak ada komentar: