21 Juni 2009

MEWARTAKAN KASIH TUHAN


Oleh: Romo A. Lioe Fut Khin, MSF

Umat beriman Paroki Kelayan yang terkasih,

Masa Paskah sudah berlalu, bulan Maria juga sudah lewat, sekarang kita masuk dalam bulan Juni yang secara liturgis merupakan masa biasa sampai menjelang masa adven nanti. Dalam bulan ini juga sekolah-sekolah libur dan banyak orang bepergian dan sudah diperkirakan gereja akan menjadi agak sepi.

Apakah dua hal ini: suasana yang biasa-biasa dan agak sepi ini akan membuat kita juga yang tinggal menjadi kurang bersemangat? Apakah kita juga akan tergoda untuk libur ke gereja, libur dalam kegiatan komunitas? Mumpung ... romonya juga sering pergi. Dalam situasi seperti inilah kesetiaan dan keseriusan kita dalam hidup iman dan hidup menggereja diuji. Apakah iman kita iman ikutan-ikutan, hura-hura atau iman supaya dilihat orang atau iman yang hanya untuk Bapa di sorga yang mengetahuinya.

Kita ingat ketika Yesus memuji hamba yang setia: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21). Menurut pengalaman saya, setia dalam perkara kecil lebih sulit daripada setia dalam perkara besar. Jika kita diberi kepercayaan untuk menjadi penanggungjawab dalam suatu perayaan atau tugas besar, biasanya kita akan melaksanakannya dengan sepenuh hati dan penuh dedikasi. Tetapi jika harus melaksanakan tugas rutin sehari-hari, kita sering merasa bosan atau malas atau menunda-nunda. Ketika saya diminta pergi sebagai misionaris ke Madagascar, dengan penuh semangat saya berangkat. Tetapi sesudah beberapa waktu di sana, ketika saya harus melaksanakan tugas sehari-hari, mengajar, bekerja di kebun, mengumpulkan kotoran sapi untuk pupuk, membersihkan kamar dan sebagainya, sering muncul rasa jenuh dan tidak bersemangat. Membuat suatu langkah yang besar itu mudah. Tetapi untuk maju terus dengan langkah yang kecil-kecil setiap hari memang diperlukan ketekunan dan kesetiaan. Dan buah dari semuanya itu adalah “masuk dan turut dalam kebahagiaan tuanmu”, suatu kedamaian jiwa, kepuasan batin.

Memang iman kita hanya untuk Bapa yang di sorga saja yang mengetahuinya. Namun sebagai perwujudannya, orang lain juga harus dapat merasakannya, bagaimana hidup dan keberadaan kita membawa damai dan sukacita Tuhan. Pernahkan ada suatu ketika seorang sahabat atau tetangga bertanya: bapa atau ibu koq selalu bahagia, selalu tersenyum, seperti orang yang tidak punya masalah? Padahal masalah kita tidak kalah serunya, tapi kita menghadapinya bersama Yesus … Berbahagialah kita jika kita pernah mengalami itu. Pada kesempatan seperti itu kita bisa bersaksi, bahwa kita memiliki Dia yang selalu siap sedia membantu hidup kita, menemukan jalan keluar dalam setiap persoalan kita. Kesempatan seperti ini menjadi kesempatan emas untuk membawa orang kepada Yesus.

Saya belum pernah mendengar hal seperti ini terjadi di Kelayan. Mungkin belum ada yang bercerita. Tetapi hidup beriman memang bukan untuk diri sendiri. Iman yang hidup selalu menarik yang lain dan memancar keluar untuk dibagikan. Mudah-mudahan kita semakin dipenuhi oleh semangat kasih Tuhan Yesus, entah masa nya baik atau tidak, entah sepi-sepi saja atau ramai di Gereja, kita harus mewartakan kasih Tuhan. Saranghamnida ! yang berarti I love you all.

Tidak ada komentar: