23 Agustus 2009

Mempertanggungjawabkan Sebuah Kebebasan

Kebebasan merupakan salah satu bentuk ekspresi Kemerdekaan. Oleh karena itu kita diajak penulis untuk merenungkan arti kebebasan yang kita miliki…

Anda pasti sudah tahu kalau manusia itu adalah ciptaan yang paling sempurna. Ciptaan yang paling disayang. Mau tau buktinya. Sudah jelas tertulis dalam Kitab Kejadian yaitu pada peristiwa penciptaan. Bab dan ayat berapa? -Silahkan cari sendiri, sekalian mulai membuka Kitab Suci, bulan depan-kan (September) bulan Kitab Suci. Minimal tahu letak dan kondisi Kitab Suci tersebut.- Pada kisah penciptaan manusia diciptakan paling terakhir, setelah segala sesuatunya tersedia. Makan tinggal makan dan minum tinggal minum. Semua disediakan tanpa harus membayar, enak too.


Tetapi semua yang diberikan Tuhan itu ternyata ada syaratnya. Dan itu sangat ringan. Manusia cuma dilarang memakan satu buah terlarang yang sudah ditandai oleh-Nya. “Nanti kamu akan mati”, begitu pesan Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya. Maka dalam arti ini,

Tuhan memberikan kebebasan secara penuh kepada manusia ciptaan-Nya yang paling mulia itu. Bebas untuk tinggal dimana saja. Bebas untuk makan apa saja. Bebas untuk bertindak seturut kehendaknya. Tetapi kebebasan itu tetap ada batasanya. Kebebasan itu harus ada aturannya. Mengapa? Karena Tuhan menciptakan manusia secitra dengan Diri-Nya (sama dengan Allah). Artinya manusia diberikan juga hati nurani untuk berpikir, bertindak dan mengambil keputusan yang harus benar di mata Allah.

Pada awal penciptaan itu, Tuhan Allah “hanya” melarang manusia untuk tidak memakan buah yang telah “ditandai” Allah. Allah sebenarnya mau melihat, apakah manusia itu menggunakan kebebasannya dengan bijaksana atau tidak? Kita lalu akan berpikir, berarti manusia itu bukan ciptaan yang sempurna, karena toh akhirnya manusia tidak mentaati perintah Allah. Jadi dalam arti tertentu Allah telah gagal menciptakan manusia. Benarkah demikian? Jelas salah. Sekali lagi salah. Allah justru memberikan yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Allah memberikan kebebasan kepada manusia, untuk berbuat seturut kehendaknya sendiri. Persoalannya apakah kehendak manusia itu sama dengan kehendak Allah?


Buah terlarang yang tidak boleh dimakan merupakan gambaran bahwa dalam setiap kehidupan selalu ada norma/aturan yang telah ada dan telah disepakati oleh semua ciptaan. Buktinya cuma manusia saja yang berani memakan buah itu. Ciptaan lain tidak ada yang berani. Jadi manusialah yang melanggar norma yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Manusialah yang melanggar kebebasan itu. Dan ketika Sang Pencipta meminta sebuah pertanggung jawaban, menusia itu mengelak dengan hebatnya. “Karena ular itu yang merayu”, begitu kata perempuan itu (Hawa). Lalu kata yang lelaki (Adam); “Karena perempuan itu yang menyuruh”. Jadi sudah dari awal manusia selalu mencari “yang lain” untuk membela dirinya dan seolah-olah dia tidak bersalah. Dan “seni” melempar kesalahan kepada “yang lain” masih terlihat sangat jelas sampai sekarang. Adakah di antara kita yang berani berkata; “Ya saya salah” ketika berbuat satu kesalahan tanpa harus terlebih dahulu memberikan alasan (baca: pembelaan)?

Sangat disayangkan, karena manusia pertama yang diciptakan Allah menjual kebebasannya dengan sebuah buah terlarang. Saya berandai-andai jika buah itu tidak dimakan. Tentu kita sekarang berada di Taman Eden, semua tersedia tanpa harus membeli. Karena kebebasan itu dilanggar maka sekarang manusia itu harus menerima sebuah konsekuensi dari perbuatan itu. Perempuan itu mendapat kesusahan karena akan melahirkan keturunan baru (namun toh ada kenikmatan juga, apa itu? Baca saja Kitab Kejadian tentang kisah ini dengan lebih seksama). Dan laki-laki itu akan bersusah payah untuk bekerja supaya bisa bertahan hidup. Tidak ada lagi yang gratis, semua harus dicari dengan berpeluh. Dan untuk si ular, dia akan selalu dibenci dan berjalan dengan perutnya.Semoga kita dapat menggunakan semua kebebasan yang kita terima dari siapa saja, dengan lebih bijaksana. Setiap kebebasan selalu mengandung sebuah konsekuensi. Selamat menikmati kebebasan yang Anda miliki dengan lebih bijak. Termasuk kebebasan untuk menentukan pilihan apa saja. Kita bebas untuk; aktif atau tidak aktif dalam hidup menggereja (ingatlah saat ada kesusahan). Kita bebas untuk memilih makanan yang kita suka (ingatlah akan kadar gula, kolesterol, dan rekan-rekan sejawatnya). Kita bebas untuk menyekolahkan anak kita kemana saja (asal sesuai budget dan kemampuan si anak). Kita bebas mau jadi apa saja (asal mau dan mampu). Dan memang semua kebebasan itu mengandung konsekuensinya masing-masing.

Selamat merenungkan. (ib)

Tidak ada komentar: